bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:58 WIB

Harga Brent Naik ke US$106,58 di Tengah Eskalasi Konflik

Redaksi 14 Oktober 2026 8 views
Harga Brent Naik ke US$106,58 di Tengah Eskalasi Konflik
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com yang mengutip Reuters, harga minyak mentah dunia naik pada Rabu (14/10), seiring meningkatnya intensitas pertempuran antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Pada pukul 00.30 GMT atau 07.30 WIB, minyak Brent bertambah 89 sen atau 0,8 persen menjadi US$106,58 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 80 sen atau 0,9 persen ke US$94,94 per barel.

Kepala Strategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa mengatakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat eskalasi konflik menjadi pendorong utama kenaikan harga. Namun, dampaknya sedikit tertahan oleh perkiraan peningkatan ekspor diesel dari Rusia. Kikukawa memperkirakan harga WTI bergerak di kisaran US$90 hingga US$100 per barel.

Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kelompok Houthi menyerang gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco di Dhahran. Serangan itu mengakibatkan kebakaran terbatas. Dalam sepekan terakhir, Houthi juga melancarkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak ke wilayah Arab Saudi.

Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas dukungan Arab Saudi terhadap Pemerintah Yaman. Bandara Internasional Riyadh juga diserang empat kali pada Sabtu sebelumnya, dengan 13 orang dilaporkan tewas.

Ketegangan pasar turut meningkat setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Menurut laporan tersebut, langkah itu ditujukan untuk menjaga harga minyak dunia tetap tinggi dan memengaruhi pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.

Di tengah gangguan jalur pelayaran akibat perang AS-Iran, Arab Saudi dan kelompok OPEC+ dilaporkan telah meningkatkan produksi minyak secara signifikan sejak bulan sebelumnya untuk menopang pasokan global. OPEC+ terdiri atas Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara mitra, termasuk Rusia.

Terpisah, Pemerintah Rusia menyatakan tidak melihat hubungan langsung antara pembicaraan damai dengan Ukraina dan kesepakatan ekspor diesel ke Amerika Serikat. Pernyataan itu berbeda dengan laporan utusan AS yang sebelumnya mengatakan kepada pejabat Ukraina bahwa kesepakatan ekspor diesel tersebut digunakan sebagai upaya mendorong Rusia kembali ke meja perundingan untuk mencapai penyelesaian damai.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.