bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:58 WIB

IHSG Melemah 2,59 Persen, Pembiayaan Akuisisi Saham Bayan Disorot

Redaksi 14 Oktober 2026 7 views
IHSG Melemah 2,59 Persen, Pembiayaan Akuisisi Saham Bayan Disorot
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut tekanan di pasar saham domestik masih berlangsung. IHSG turun 2,59 persen ke level 5.936, terutama akibat koreksi tajam saham konglomerasi DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN.

Sebanyak 11 sektor saham mengalami pelemahan. Tercatat 632 saham turun dan 118 saham naik. Di tengah koreksi indeks, investor asing membukukan pembelian bersih Rp 81 miliar di pasar reguler.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai sentimen pasar masih rentan. Risiko konsentrasi indeks, kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian pengawasan pasar menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Di pasar Amerika Serikat, pergerakan indeks beragam. Dow Jones naik 0,4 persen, sementara S&P 500 turun 0,1 persen dan Nasdaq melemah 0,4 persen. Harga minyak Brent meningkat 1,8 persen menjadi USD 106,65 per barel seiring kenaikan ketegangan geopolitik. Adapun harga emas turun 0,6 persen.

Indeks Dolar AS berada di sekitar 102,6. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun terakhir tercatat 5,24 persen, sementara pasar obligasi AS libur. Dari dalam negeri, rupiah melemah ke kisaran Rp 17.900 per dolar AS.

Rully mengatakan data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Rabu dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pekan berikutnya menjadi katalis yang perlu dicermati. Ia menilai investor perlu memilih saham secara selektif, alih-alih mengambil eksposur luas terhadap indeks.

Di luar kondisi pasar, investor juga perlu menilai fundamental dan struktur pembiayaan setiap emiten. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin serta dampaknya terhadap risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menyampaikan bahwa kemampuan membayar utang semestinya menjadi dasar penilaian kredit, bukan hanya nilai aset yang dijaminkan. Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memiliki 30,25 persen saham BYAN.

Menurut Nurkholis, BYAN rata-rata membagikan dividen USD 960 juta per tahun selama tahun buku 2021–2025, termasuk USD 500 juta untuk tahun buku 2025. Berdasarkan porsi saham Jhonlin, dividen yang secara historis berpotensi diterima kelompok usaha itu sekitar USD 290 juta per tahun.

Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20 persen terhadap asumsi fasilitas pembiayaan Rp 26,1 triliun atau sekitar USD 1,45 miliar yang seluruhnya bersumber dari utang. Angka itu lebih tinggi daripada asumsi biaya pinjaman sebesar 8 persen.

Nurkholis menjelaskan, dalam skema cicilan selama 7–8 tahun, rata-rata dividen BYAN berpotensi mendukung pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar USD 116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh rata-rata dividen lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Cicilan tahunan sebesar USD 252–279 juta diperkirakan tertutup sekitar 1,04–1,15 kali, sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun.

Kemampuan membayar tersebut juga ditopang kinerja operasional BYAN. Pada semester I 2026, perusahaan mencatat laba bersih USD 410 juta, tumbuh 17 persen secara tahunan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.