bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, para peneliti kini tengah menguji penggunaan wol domba sebagai alternatif penutup gletser di Pegunungan Alpen, menggantikan terpal sintetis yang biasanya dipakai untuk mengurangi laju pencairan es.
Selama beberapa dekade, lapisan es yang terbentuk ribuan tahun di kawasan Alpen dilapisi terpal berbahan plastik untuk memantulkan sinar matahari dan menurunkan penyerapan panas. Namun, bahan sintetis tersebut dapat melepaskan serat mikroplastik yang mencemari lingkungan.
Menurut Reuters pada 3 September, proyek yang dinamakan "Keep It Wool"—dijalankan oleh Summit Foundation bersama Universitas Lausanne—meneliti efektivitas wol domba dalam memperlambat pencairan Gletser Tsanfleuron di Swiss barat.
Musim panas yang ekstrem tahun ini mempercepat pencairan salju pada gletser beberapa minggu lebih cepat dari biasanya, meningkatkan risiko longsor batu seperti yang menimpa desa Blatten pada 2025 serta banjir bandang di Nepal beberapa waktu lalu.
Manajer proyek Timothee Steiner menjelaskan bahwa timnya berupaya menemukan bahan penutup yang dapat terurai secara alami dan lebih ramah lingkungan, sekaligus memanfaatkan wol Swiss yang sebagian besar (40‑70 %) dibuang setiap tahunnya.
Ide tersebut dikembangkan oleh empat mahasiswa magister yang kemudian menguji prototipe selimut wol buatan perusahaan Swiss Fisolan pada Juni. Selimut tersebut dipasang di atas area seluas 200 meter persegi di Gletser Tsanfleuron dan dibandingkan dengan terpal sintetis konvensional selama musim panas.
Hasil sementara menunjukkan bahwa selimut wol mampu menunda pencairan es dengan performa setara terpal sintetis, menurut pengukuran yang dilakukan setiap dua minggu. Niklaus Saegesser dari Fisolan menyatakan ia terkejut dengan ketahanan material wol tersebut.
Meskipun demikian, para pendukung proyek menegaskan bahwa selimut wol bukanlah solusi utama untuk mengatasi perubahan iklim. Hanya sekitar 0,02 % permukaan gletser Swiss yang saat ini tertutup oleh bahan pelindung, sementara sebagian besar tetap terbuka.
Para ilmuwan menekankan bahwa upaya jangka panjang yang paling efektif untuk memperlambat pencairan es tetap harus berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya dari pembakaran bahan bakar fosil.