bytedaily
Minggu, 05 Juli 2026 - 03:35 WIB

INDEF: Kenaikan Harga Pertamax adalah Realitas Bisnis, Bukan Masalah Fiskal

Redaksi 15 Juni 2026 15 views
INDEF: Kenaikan Harga Pertamax adalah Realitas Bisnis, Bukan Masalah Fiskal
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) berpendapat bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax sebesar 32,1 persen menjadi Rp16.250 per liter merupakan akibat logis dari dinamika pasar energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini ditegaskan bukan sebagai cerminan dari guncangan pada ketahanan fiskal negara.

Menurut Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, masyarakat dan aktor politik cenderung mengaitkan penyesuaian harga Pertamax dengan isu kemampuan keuangan pemerintah dan pembiayaan program strategis. Padahal, menurutnya, ada upaya untuk mencocoklogikan dinamika harga BBM non-subsidi dengan kebijakan pemerintah di sektor lain, seperti program Makan Bergizi Gratis atau guncangan fiskal, yang dinilai tidak sepenuhnya benar.

Abra menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM subsidi memang relevan jika dikaitkan dengan kondisi fiskal. Namun, untuk BBM non-subsidi atau Jenis BBM Umum (JBU), hal tersebut murni merupakan domain korporasi dan rasionalitas bisnis badan usaha. Regulasi di Indonesia memberikan keleluasaan bagi badan usaha, termasuk Pertamina dan operator swasta, untuk mengevaluasi dan menyesuaikan harga jual JBU secara berkala sesuai pergerakan harga pasar.

Kenaikan harga Pertamax yang diikuti oleh operator swasta lainnya dengan margin yang relatif lebih tinggi, menurut INDEF, membuktikan bahwa penyesuaian ini adalah respons industri yang normal. Data INDEF menunjukkan bahwa biaya produksi BBM di dalam negeri tertekan oleh tiga faktor utama: eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, depresiasi tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang berada di atas asumsi dasar APBN.

Lebih lanjut, INDEF mencatat bahwa harga Rp16.250 per liter untuk Pertamax belum mencerminkan nilai keekonomian riil yang dihadapi Pertamina. Estimasi harga keekonomian sejati untuk BBM dengan angka oktan 92 saat ini berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter. Dengan estimasi terendah sebesar Rp20.000 per liter, Pertamina masih menanggung selisih harga sekitar Rp3.570 per liter.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.