bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa rencana impor minyak mentah dari Rusia masih dalam proses. Kesepakatan ini sebelumnya telah terjalin melalui kerja sama antar pemerintah (G2G) antara kedua negara.
Pelaksanaan impor minyak Rusia tersebut akan ditangani oleh Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), yang merupakan Unit Layanan Pengadaan (BLU) di bawah Kementerian ESDM. Menurut Bahlil, meskipun proses teknis pengadaan masih berjalan, prinsip dasar kontrak kerja sama telah disepakati.
Bahlil menjelaskan bahwa kontrak impor telah ditandatangani dan akan dilaksanakan oleh Lemigas. Ia menambahkan bahwa meskipun volume impor belum dirinci, kapasitasnya berpotensi meningkat di masa mendatang. Lebih lanjut, Bahlil menepis kekhawatiran mengenai dampak krisis energi Rusia terhadap pasokan bahan bakar ke Indonesia, menegaskan bahwa komitmen pasokan energi dari Rusia tetap terjaga karena telah dibahas di tingkat kepala negara.
Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Bahlil telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Energi Rusia untuk memastikan kelanjutan kerja sama ini. Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa realisasi transaksi minyak Rusia tinggal menunggu waktu. Tahapan kerja sama kini telah beralih dari kesepakatan G2G menuju pelaksanaan transaksi komersial.
Laode Sulaeman juga menjelaskan bahwa kerja sama impor minyak Rusia didukung oleh penerbitan Peraturan Presiden yang menjadi landasan hukum pelaksanaan kesepakatan antara kedua negara.