bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, kehadiran sektor industri di Tanggamus, Lampung, telah memberikan dampak signifikan dalam membuka peluang kerja dan akses pelatihan bagi masyarakat setempat, yang sebelumnya mayoritas berprofesi di sektor pertanian dan pekerjaan informal. Data per Agustus 2026 menunjukkan bahwa sekitar 90 persen pekerja di pabrik yang beroperasi di wilayah tersebut berasal dari komunitas lokal.
Kepala Pabrik Aqua Tanggamus, Teguh Santoso, menjelaskan bahwa perusahaan berfokus pada pengembangan sumber daya manusia lokal melalui program pelatihan yang dirancang untuk membekali warga dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. "Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah," ungkap Teguh.
Sejak pabrik mulai beroperasi pada April 2016, pelatihan intensif telah diberikan kepada warga sekitar, mencakup berbagai aspek mulai dari keselamatan kerja hingga keterampilan teknis yang spesifik untuk pekerjaan manufaktur. Banyak dari pekerja ini sebelumnya berprofesi sebagai petani dan pekebun.
Salah satu contoh nyata adalah Yopanda, 38 tahun, yang beralih dari profesi petani dan pekerja serabutan menjadi bagian dari tim engineering pabrik setelah terlibat dalam proses pembangunan. Pengalaman ini memotivasinya untuk melanjutkan pendidikan melalui program Paket C, yang diikuti oleh sekitar 20 warga lokal lainnya, sekaligus mempelajari keterampilan komputer yang kini menjadi bagian dari tugas sehari-harinya.
"Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan," ujar Yopanda.
Kini, setelah satu dekade berkarir di industri, Yopanda telah mencapai posisi supervisor. Ia mengakui bahwa bekerja di sektor industri telah membentuk kebiasaan baru terkait disiplin dan kesadaran akan keselamatan kerja, yang bahkan ia terapkan kembali saat kembali ke kebun.
Selain penyerapan tenaga kerja, perusahaan juga aktif dalam program lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Antara tahun 2016 hingga 2026, perusahaan melaporkan telah melakukan penanaman lebih dari 11.000 pohon dan membangun sekitar 700 rorak di kawasan hulu Pegunungan Tanggamus. Program lain yang dijalankan meliputi pendampingan petani kopi, penyediaan akses air bersih bagi 1.037 warga melalui program WASH, serta pengelolaan sampah plastik hingga 378 ton melalui inisiatif "Sampahku Tanggung Jawabku".
Di wilayah hilir, perusahaan turut mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas 3,2 hektare. Studi bersama Universitas Lampung pada 2025 mencatat kawasan ini memiliki indeks keanekaragaman hayati 3,16, dengan keberadaan enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung.
Secara keseluruhan, kehadiran industri di Tanggamus tidak hanya memperluas pilihan karir bagi masyarakat, tetapi juga membuka akses terhadap pengembangan keterampilan dan pendidikan, yang akan semakin memberikan manfaat berkelanjutan jika sejalan dengan peningkatan kapasitas masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang baik.