bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, sektor hilirisasi mineral telah menjadi pendorong utama investasi nasional, dengan realisasi mencapai Rp 98,3 triliun pada triwulan I 2026. Angka ini menyumbang sekitar 67 persen dari total investasi hilirisasi nasional yang sebesar Rp 147,5 triliun.
Besarnya investasi tersebut didukung oleh komoditas strategis yang dikelola oleh Grup MIND ID, meliputi nikel, tembaga, timah, dan bauksit. Hal ini memperkuat posisi holding industri pertambangan BUMN tersebut sebagai salah satu pilar penting dalam agenda hilirisasi yang dicanangkan pemerintah.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa sektor hilirisasi kini memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap investasi nasional. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp 147,5 triliun, yang setara dengan 29,6 persen dari total investasi nasional sebesar Rp 498,8 triliun.
Rosan menambahkan bahwa sektor mineral menjadi kontributor terbesar dalam investasi hilirisasi nasional. Dari total Rp 98,3 triliun investasi mineral, komoditas nikel menyumbang Rp 41,5 triliun (42 persen), diikuti oleh tembaga Rp 20,7 triliun, besi baja Rp 17 triliun, bauksit Rp 13,7 triliun, dan timah Rp 2,5 triliun. Komoditas lain seperti emas, perak, kobalt, mangan, batubara, pasir silika, dan logam tanah jarang turut berkontribusi pada sisa investasi.
Data tersebut mengindikasikan bahwa investasi hilirisasi nasional masih sangat bergantung pada komoditas mineral, yang merupakan keunggulan Indonesia di pasar global. Bagi MIND ID, pencapaian ini menunjukkan bahwa aset strategis yang dikelola grup, seperti ANTAM (nikel dan bauksit), PT Freeport Indonesia (tembaga), dan PT Timah (timah), berperan krusial dalam menarik investasi.
Investasi besar di sektor mineral juga berdampak positif pada pertumbuhan kawasan industri berbasis sumber daya alam di berbagai daerah. Rosan mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa, dengan konsentrasi di wilayah penghasil mineral seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara, yang menjadi pusat pengembangan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Data BKPM mencatat Sulawesi Tengah sebagai tujuan investasi terbesar kelima nasional dengan Rp 32,1 triliun (6,4 persen) dan Maluku Utara di posisi keenam dengan Rp 25,2 triliun (5 persen) dari total investasi triwulan I 2026. Kedua provinsi ini menjadi contoh bagaimana hilirisasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan pemerataan investasi.
Secara nasional, sektor industri logam dasar dan barang logam menjadi subsektor investasi terbesar dengan realisasi Rp 69,4 triliun (14 persen) dari total investasi nasional, melampaui sektor pertambangan yang mencatat Rp 51,9 triliun. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas hilirisasi ke berbagai komoditas strategis guna meningkatkan nilai tambah ekonomi.