bytedaily
Senin, 17 Agustus 2026 - 23:18 WIB

Investasi Rp3 Triliun untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di DIY

Redaksi 13 Agustus 2026 10 views
Investasi Rp3 Triliun untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di DIY
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Danantara Investment Management (DIM) melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun. Proyek ini merupakan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah di DIY.

Target groundbreaking proyek PSEL ini adalah Desember 2026, dan diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Pembangunan PSEL ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan lingkungan akibat sampah yang dihadapi beberapa daerah di DIY, khususnya wilayah Yogyakarta, Sleman, dan Bantul (Kartamantul).

Nota kesepahaman proyek ini telah ditandatangani oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Penandatanganan dilakukan setelah pertemuan yang membahas kesiapan lahan, pasokan sampah, dan tahapan pembangunan.

Director of Investments DIM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Denera, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa proyek PSEL saat ini memasuki tahap persiapan konstruksi. Tahapan tersebut meliputi kajian lingkungan, desain teknik, dan pematangan lahan. Pembangunan fisik direncanakan dimulai Januari 2027 dan ditargetkan selesai pada akhir 2028, sehingga fasilitas dapat mulai mengolah sampah pada kuartal III atau IV tahun tersebut.

Fadli Rahman memperkirakan nilai investasi proyek ini berkisar antara Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun, yang akan bergantung pada hasil desain akhir tahun ini. PSEL rencananya akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 5,7 hektare milik Pemda DIY yang berlokasi di Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Lokasi ini berada di dekat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan yang operasionalnya telah dihentikan.

Secara teknis, sampah akan dikeringkan dalam bunker tertutup selama kurang lebih lima hari. Air lindi hasil pengeringan akan diolah kembali, sementara sampah yang kering akan digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap yang memutar turbin pembangkit listrik. Abu sisa pembakaran akan diolah sesuai standar Eropa, dan emisi akan disaring ketat sebelum dilepaskan ke udara.

Pada tahap awal, PSEL diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 18-20 megawatt. Energi listrik ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 15 ribu rumah tangga di wilayah DIY. Energi listrik yang dihasilkan akan dijual kepada PLN melalui perjanjian jual beli listrik.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan pentingnya pasokan sampah untuk keberlanjutan operasional PSEL. Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul telah sepakat untuk memasok sampah dengan proyeksi total sekitar 1.099 ton per hari. Pemda DIY juga membuka peluang keterlibatan Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo jika diperlukan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, menyatakan bahwa PSEL merupakan bagian dari strategi penanganan sampah di DIY, mengingat potensi timbulan sampah di wilayah tersebut mendekati 2.000 ton per hari.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.