bytedaily
Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Iran Diduga Gunakan Celah Keamanan Telekomunikasi untuk Lacak HP Tentara AS di Timur Tengah

Redaksi 16 Juli 2026 16 views
Iran Diduga Gunakan Celah Keamanan Telekomunikasi untuk Lacak HP Tentara AS di Timur Tengah
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Iran disebut melancarkan serangan siber dengan menyasar telepon seluler milik tentara Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Strategi ini diduga digunakan untuk melacak posisi personel AS di wilayah tersebut.

Lembaga riset Mobile Surveillance Monitor mengamati adanya peningkatan permintaan data lokasi perangkat di Timur Tengah sejak serangan udara AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Sinyal yang digunakan dalam pelacakan ini memanfaatkan protokol SS7, yang memiliki celah keamanan pada teknologi telekomunikasi lama.

Gary Miller, pendiri Mobile Surveillance Monitor, menyatakan bahwa data yang terkumpul mengindikasikan adanya kampanye serangan yang terkoordinasi terhadap puluhan ribu personel militer AS yang bertugas di berbagai negara Timur Tengah. Sasaran utamanya diperkirakan adalah jaringan lokal yang terkadang digunakan oleh para personel militer AS.

Nikita Shah, peneliti keamanan siber di Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS), menilai perkembangan ini menunjukkan peningkatan kecanggihan Iran dalam melancarkan serangan siber dan menjadi ancaman yang serius. Ia menambahkan bahwa Iran telah menunjukkan kreativitas yang signifikan, terutama selama konflik yang sedang berlangsung.

Sebelumnya, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) juga telah mengungkapkan kemampuan Iran dalam serangan siber. Pada April lalu, CISA melaporkan bahwa serangan siber Iran yang menargetkan layanan pemerintah serta sistem air dan energi telah menyebabkan gangguan operasional dan kerugian finansial.

Pada Maret lalu, kelompok peretas yang dikaitkan dengan Iran juga mengklaim telah berhasil meretas email pribadi Direktur FBI Kash Patel dan menyebarkan sejumlah foto serta dokumen sang direktur ke internet. Kelompok tersebut, yang menamakan diri Handala, juga mengklaim telah meretas drone milik FBI dan mengancam akan menargetkan Piala Dunia 2026.

Menanggapi hal ini, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) enggan memberikan rincian mengenai langkah-langkah pertahanan yang diambil untuk melindungi personel dari aktivitas pelacakan ponsel oleh Iran. Namun, seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan kepada Financial Times bahwa klaim mengenai dampak signifikan dari data pelacakan tersebut terhadap upaya Iran dalam menargetkan personel militer AS tidak akurat.

Pada April lalu, CENTCOM telah melaporkan kepada kongres mengenai berbagai ancaman terkait eksploitasi data lokasi komersial oleh pihak lawan untuk menargetkan atau mengawasi personel AS. Sebulan kemudian, lebih dari selusin anggota kongres mengirimkan surat kepada Departemen Pertahanan, menyuarakan keprihatinan mengenai perlindungan yang belum optimal bagi anggota militer AS dari ancaman siber selama konflik berlangsung.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.