bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:32 WIB

Jawa Timur Masuki Puncak Musim Kemarau, Hujan Diperkirakan Mulai Meningkat Akhir 2026

Redaksi 22 September 2026 14 views
Jawa Timur Masuki Puncak Musim Kemarau, Hujan Diperkirakan Mulai Meningkat Akhir 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, seluruh wilayah Jawa Timur saat ini berada pada fase puncak musim kemarau yang dipicu oleh fenomena El Nino sangat kuat, diproyeksikan BMK​G akan berlanjut hingga awal 2027.

Staf Analisa dan Prakiraan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Firda Amalia, mengonfirmasi bahwa provinsi tersebut sedang berada di puncak musim kemarau. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya perkiraan puncak musim kemarau berada pada bulan Agustus hingga September, sehingga kondisi kini memang berada pada puncak tersebut.

Firda menambahkan bahwa wilayah Jawa Timur masih harus mempersiapkan diri menghadapi cuaca yang kering, dengan intensitas hujan yang diperkirakan tetap berada pada level rendah selama dua bulan ke depan. Menurutnya, curah hujan hingga November diprediksi umumnya berada pada kategori rendah.

Berdasarkan data BMKG, curah hujan pada bulan Oktober diperkirakan sangat minim, berkisar antara 0 hingga 50 milimeter per bulan. Pada November, curah hujan diperkirakan mulai naik sedikit, namun masih dalam rentang ringan antara 51 hingga 100 milimeter per bulan.

Menurut Firda, peningkatan curah hujan yang signifikan baru akan terjadi pada penghujung tahun 2026. Untuk bulan Desember, BMKG memperkirakan curah hujan akan masuk dalam kategori menengah hingga tinggi, yaitu sekitar 300 hingga 400 milimeter per bulan.

Meskipun berada di puncak kemarau, Firda mencatat bahwa hujan masih berpeluang turun di beberapa daerah tertentu. Anomali hujan pada musim kering biasanya dipicu oleh faktor lokal seperti topografi pegunungan dan kelembapan udara yang tinggi, serta faktor regional seperti gangguan gelombang Rossby atau Madden‑Julian Oscillation (MJO) yang dapat menimbulkan hujan secara tiba‑tiba.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.
Topik Terkait:
#teknologi #cuaca #indonesia