bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 06:57 WIB

Jensen Huang Tegaskan AI Tidak Akan Memusnahkan Manusia pada 2030

Redaksi 23 September 2026 17 views
Jensen Huang Tegaskan AI Tidak Akan Memusnahkan Manusia pada 2030
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, CEO Nvidia Jensen Huang menolak keras prediksi bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengakibatkan kepunahan manusia dalam dekade mendatang. Dalam wawancara dengan CBS News yang dikutip oleh The Guardian, Huang menyatakan bahwa kemungkinan AI menjadi penyebab akhir dunia pada tahun 2030 adalah nol persen dan menilai upaya menakut‑nuti publik sebagai tidak bertanggung jawab.

Penolakan tersebut muncul sebagai respons atas unggahan mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, yang memperkirakan AI dapat melampaui kemampuan manusia dan menimbulkan ancaman eksistensial sebelum tahun 2030 berakhir. Pernyataan Coxon didukung oleh dua peneliti lain di perusahaan yang mengembangkan model Claude, memicu perdebatan internasional mengenai bahaya AI serta kurangnya regulasi.

Huang menilai prediksi kepunahan tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah. Sementara itu, persaingan antar perusahaan teknologi untuk mengembangkan model AI yang semakin kuat berlangsung, dan anggota parlemen Amerika Serikat mengkritik risiko yang ditimbulkan teknologi tersebut.

Anthropic juga merilis laporan intelijen yang mengidentifikasi potensi penyalahgunaan model AI oleh penjahat, kelompok yang disponsori negara, serta entitas yang melakukan spionase atau propaganda. Laporan tersebut mencakup skenario penggunaan AI untuk merancang senjata, menciptakan patogen mematikan, hingga melakukan pengawasan terhadap oposisi.

CEO Anthropic Dario Amodei, pendiri OpenAI Sam Altman, dan pendiri xAI Elon Musk sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan AI. Huang, bagaimanapun, mempertanyakan motif seruan tersebut, menganggapnya sebagai upaya menghindari regulasi yang sudah ada serta menunda pertanggungjawaban perusahaan.

Ia menyoroti bahwa regulasi mengenai akses tanpa izin, tanggung jawab atas kerusakan, dan kewajiban dalam perjanjian layanan sudah tersedia, dan menekankan pentingnya penerapan aturan yang ada sebelum menciptakan narasi kiamat yang dapat membebaskan perusahaan dari kewajiban hukum.

Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kekhawatiran terkait AI sebagai "hoaks" dan "konspirasi", serta berpendapat bahwa memperlambat pengembangan AI dapat memberi keunggulan kompetitif kepada China.

Pada 20 September, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Washington dan Beijing telah sepakat membentuk mekanisme dialog AI untuk saling memberi peringatan guna mengurangi potensi bahaya teknologi tersebut.

Think‑tank Tony Blair Institute (TBI) menerbitkan makalah yang memperingatkan negara‑negara berisiko tertinggal secara signifikan jika tidak mengadopsi AI, sekaligus menilai bahwa institusi yang seharusnya membantu pemimpin dalam pengambilan keputusan belum siap menghadapi perubahan yang ditimbulkan teknologi ini.

Menurut Tony Blair, AI berpotensi mengubah dunia dalam satu dekade, memengaruhi ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, pasar tenaga kerja, layanan publik, serta keamanan nasional, dengan risiko dan kekhawatiran masyarakat yang perlu diantisipasi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.