bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Antariksa Jepang (JAXA) tengah mempersiapkan misi nirawak bernama Martian Moons eXploration (MMX) yang bertujuan untuk mengambil sampel dari Phobos, salah satu satelit alami Mars. Misi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru mengenai asal-usul Tata Surya dan potensi kehidupan di Bumi.
Wahana MMX dijadwalkan untuk diluncurkan dari Tanegashima Space Center dalam beberapa bulan mendatang. Setelah berada di orbit Mars selama kurang lebih tiga tahun, wahana ini akan berupaya mendarat di Phobos untuk mengumpulkan minimal 10 gram material permukaan. Misi ini juga akan mencakup pengamatan terhadap Deimos, bulan Mars lainnya, tanpa melakukan pendaratan. Sebuah kapsul pengembalian dari misi ini direncanakan akan tiba di Bumi dan mendarat di Australia sekitar tahun 2031.
MMX merupakan hasil kolaborasi internasional yang melibatkan Pusat Studi Antariksa Nasional Prancis (CNES), Pusat Dirgantara Jerman (DLR), NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), serta sejumlah institusi akademis dan perusahaan teknologi. Salah satu tantangan teknis terbesar dalam pengembangan wahana ini adalah desain kaki pendarat, mengingat gravitasi Phobos yang sangat rendah. Insinyur Mitsubishi Electric, Akinari Uehara, menjelaskan bahwa kaki pendarat harus dirancang untuk meredam benturan agar wahana tidak terlempar saat mendarat.
Jepang memiliki pengalaman sebelumnya dalam misi luar angkasa, termasuk wahana Smart Lander for Investigating Moon (SLIM) atau Moon Sniper yang mengalami masalah orientasi setelah mendarat di Bulan pada 2024, namun tetap berhasil mengirimkan data. Misi Hayabusa-2 sebelumnya juga sukses mengembalikan sampel dari sebuah asteroid pada tahun 2020. Sementara itu, misi pengembalian sampel Mars dari China melalui wahana Tianwen-3 dijadwalkan meluncur sekitar 2028.
JAXA berharap misi MMX dapat membantu mengungkap bagaimana Mars dan kedua bulannya terbentuk. Terdapat dua teori utama yang bersaing: hipotesis tumbukan raksasa, yang menyatakan kedua bulan terbentuk akibat tabrakan benda langit dengan Mars, dan hipotesis tangkapan, yang menduga keduanya adalah asteroid dari Tata Surya luar yang tertangkap gravitasi Mars. Pemahaman ini penting untuk mengetahui bagaimana lingkungan yang mendukung kehidupan dapat terbentuk di planet-planet terestrial.
Lebih lanjut, JAXA juga menjajaki potensi Phobos sebagai stasiun luar angkasa alami di masa depan. Astrofisikawan Prancis, Patrick Michel, yang terlibat dalam pengembangan penjelajah IDEFIX yang akan dibawa oleh MMX, menyatakan bahwa misi ini dapat memberikan petunjuk mengenai mekanisme pengantaran air, senyawa mudah menguap, dan senyawa organik dari Tata Surya luar ke planet terestrial. Hal ini dapat menjelaskan asal-usul material yang krusial bagi kemunculan kehidupan.