bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Jerman menargetkan penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap pada 2045. Target tersebut tercantum dalam peta jalan yang diterbitkan pada Rabu (23/9), sekaligus mempertegas komitmen pemerintah yang sebelumnya hanya berfokus pada penyeimbangan emisi karbon.
Dalam peta jalan itu, Jerman berencana meningkatkan porsi energi terbarukan dari 55 persen menjadi 80 persen pada 2030. Pemerintah juga menargetkan penambahan kapasitas tenaga angin darat sebesar 12 GW dan energi surya sebesar 215 GW pada tahun yang sama.
Komitmen untuk mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap dalam satu dekade ke depan tetap dilanjutkan. Jerman menargetkan penghentian total batu bara pada 2038, dengan kemungkinan mempercepat pencapaian target tersebut menjadi 2035.
Rencana pemerintah turut mencakup pengurangan emisi metana sebesar 30 persen pada 2030. Metana disebut sebagai gas rumah kaca yang 80 kali lebih berbahaya daripada karbon dioksida. Mengutip The Guardian, langkah Jerman selaras dengan komitmen metana global yang ditandatangani pada 2021 dan mendapat sambutan dari aktivis lingkungan.
Andreas Sieber, kepala strategi politik global 350.org, menilai peta jalan tersebut sebagai perubahan penting karena menjadikan penghapusan bahan bakar fosil sebagai tujuan kebijakan yang tegas. Namun, ia mengingatkan bahwa Kementerian Urusan Ekonomi dan Energi Jerman masih mendorong penggunaan gas.
Sieber juga menyebut ketergantungan pada bahan bakar fosil berisiko bagi rumah tangga dan pelaku usaha di Jerman maupun negara lain. Ketergantungan itu, menurutnya, dapat membuat mereka terdampak lonjakan harga, gejolak pasar, dan ketidakpastian geopolitik.
Mantan utusan iklim Jerman, Jennifer Morgan, mengatakan pemerintah perlu meningkatkan upaya elektrifikasi di sektor transportasi dan pemanas. Ia menilai peralihan yang lebih cepat dari batu bara, minyak, dan gas menuju energi terbarukan dapat memperkuat kemandirian energi serta melindungi konsumen dari lonjakan harga. Morgan menambahkan, peta jalan tersebut baru merupakan langkah awal dan perlu disertai strategi elektrifikasi ramah lingkungan yang lebih cepat serta terencana.
Jerman menjadi negara maju ketiga yang menerbitkan peta jalan serupa, setelah Prancis dan Belanda. Langkah ini menyusul konferensi internasional di Kolombia pada April, yang diikuti dengan janji para peserta untuk menyusun rencana penghapusan bahan bakar fosil secara menyeluruh.
Pengumuman tersebut hadir di tengah perdebatan sejumlah negara mengenai peningkatan upaya penanganan krisis iklim dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York. Sebelumnya, rencana Jerman untuk mendorong penggunaan pompa panas sebagai pengganti pemanas gas mendapat penolakan keras dari sayap kanan ekstrem. Rencana itu muncul setelah undang-undang pemanas disahkan pada 2023, yang bertujuan melarang sebagian besar pemasangan pemanas berbahan bakar minyak dan gas.