bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Kaitan Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau dengan Tektonik Megathrust Selat Sunda

Redaksi 09 September 2026 11 views
Kaitan Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau dengan Tektonik Megathrust Selat Sunda
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pakar mitigasi bencana Daryono menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau berhubungan dengan pergerakan tektonik pada zona megathrust Selat Sunda.

Daryono menyatakan bahwa magma yang berada di dalam gunung tersebut terbentuk secara langsung akibat proses subduksi Lempeng Indo‑Australia yang menukik di bawah Lempeng Eurasia.

Ia menambahkan bahwa ketika terjadi deformasi atau pelepasan energi gempa di zona megathrust, getaran serta perubahan tekanan tektonik dalam kerak bumi dapat memengaruhi sistem magma di bawah Anak Krakatau, serupa dengan mengocok atau menekan kantong magma yang berisi gas.

"Ketika deformasi atau pelepasan energi gempa terjadi di zona megathrust, goncangan atau perubahan tekanan tektonik (stress transfer) dapat menekan atau mengocok kantong magma yang sarat gas di bawah Anak Krakatau," ujar Daryono kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (8/9).

Perenggangan tektonik di Selat Sunda dapat membuka celah atau retakan pada struktur batuan, sehingga mempermudah magma naik ke permukaan dan mempercepat proses erupsi.

Menurutnya, tidak ada satu nilai magnitudo tertentu yang secara mutlak menjadi batas bagi gempa untuk memengaruhi sistem magma Anak Krakatau; pengaruhnya bergantung pada jarak episentrum, kedalaman gempa, serta kondisi kantong magma.

Secara umum, gempa tektonik dangkal berukuran sedang (M5,0‑6,0) yang berjarak sangat dekat (puluhan kilometer) atau gempa megathrust berskala besar (M7,0) yang berjarak hingga ratusan kilometer sudah cukup untuk menghasilkan guncangan dinamis maupun perubahan regangan yang signifikan.

Daryono menekankan bahwa kemampuan gempa untuk memicu peningkatan aktivitas Anak Krakatau sangat dipengaruhi oleh keadaan magma sebelum gempa terjadi. Jika magma sudah jenuh gas dan siap meletus, guncangan gempa sedang pun dapat mengganggu dapur magma; sebaliknya, bila magma berada dalam keadaan pasif atau belum terakumulasi secara signifikan, bahkan gempa besar sekalipun tidak serta‑merta meningkatkan aktivitas vulkanik.

Ia juga mencatat bahwa erupsi besar dengan volume magma tinggi dapat mengubah keseimbangan tegangan batuan lokal, memicu pergeseran sesar‑sesar kecil di sekitar Selat Sunda (volcano‑induced tectonics) dan menghasilkan gempa tektonik lokal berukuran kecil hingga sedang. Namun, aktivitas vulkanik tidak cukup kuat untuk secara langsung menimbulkan gempa megathrust berskala raksasa.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memantau indikator awal berupa peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan vulkanik dangkal (VB), serta mendeteksi retakan batuan di bawah gunung melalui sensor GPS berpresisi tinggi dan tiltmeter untuk mengamati deformasi tubuh gunung.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.