bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Kementerian Keuangan menyatakan bahwa ketersediaan likuiditas di pasar belum cukup untuk mendorong perekonomian jika perputaran uang tidak mengarah ke sektor produktif.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Noor Faisal Achmad mengatakan uang yang tidak berputar dalam transaksi produktif belum menciptakan kegiatan ekonomi. Ia menyampaikan hal itu dalam Mata Lokal Fest 2026 di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Rabu (7/10).
Noor mencontohkan, likuiditas dapat memberi dampak nyata ketika petani memperoleh biaya untuk musim tanam, usaha kecil dapat membeli bahan baku dan peralatan, serta eksportir mampu memperbesar kapasitas produksi.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan memerlukan kerja sama kebijakan fiskal, kebijakan moneter, sektor keuangan, dan sektor riil. Kebijakan fiskal menyediakan ruang dan peluang, kebijakan moneter menjaga stabilitas serta mendukung transmisi, sedangkan sektor keuangan menyalurkan tabungan masyarakat menjadi pembiayaan.
Noor juga menyebut belanja APBN berperan sebagai katalis untuk mendorong investasi, konektivitas, dan perlindungan sosial. Hingga Agustus 2026, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp1.791,5 triliun. Dari jumlah tersebut, belanja modal tercatat Rp159,8 triliun, antara lain untuk mendukung infrastruktur dasar seperti jalan dan irigasi.
Ia mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi bergantung pula pada kredibilitas tata kelola fiskal, terutama di tengah ketidakpastian global dan geopolitik. Defisit anggaran per Agustus 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau 0,96 persen dari produk domestik bruto. Noor menambahkan, kepercayaan dibangun melalui konsistensi kebijakan, institusi, dan hasil, bukan hanya komunikasi.