bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan tanggapan terkait beredarnya video yang memperlihatkan petani menggunakan paracetamol dan vitamin B kompleks untuk menyuburkan tanaman cabai.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Agung Sanusi, menekankan bahwa praktik budidaya cabai di Indonesia belum memiliki rekomendasi resmi untuk penggunaan obat-obatan manusia seperti paracetamol atau vitamin B kompleks pada tanaman. Kementan mendorong penggunaan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang sudah terdaftar, memiliki dasar ilmiah, serta izin edar yang sah untuk sektor pertanian.
Agung menduga fenomena ini muncul dari pengalaman empiris sebagian petani atau informasi yang tersebar di media sosial. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang memadai yang secara konsisten menunjukkan paracetamol dapat meningkatkan produktivitas cabai dengan aman dan ekonomis di tingkat lapangan. Oleh karena itu, praktik tersebut tidak dapat dijadikan acuan budidaya yang direkomendasikan.
Pihak Kementan juga memperingatkan potensi risiko jika penggunaan obat manusia pada tanaman dilakukan secara luas tanpa dasar ilmiah dan pengawasan. Risiko tersebut meliputi munculnya residu senyawa farmasi di lingkungan dan rantai pangan jika digunakan berlebihan, gangguan keseimbangan mikroorganisme tanah dan ekosistem pertanian, persepsi keliru masyarakat mengenai pengganti input pertanian teruji, serta potensi pemborosan biaya produksi akibat efektivitas yang belum terbukti.
Beberapa penelitian internasional memang menunjukkan tanaman dapat menyerap paracetamol dari media tanam dan mengakumulasikannya pada jaringan tanaman dalam kondisi tertentu. Namun, penelitian tersebut dilakukan di laboratorium dan belum menjadi dasar untuk merekomendasikan penggunaannya dalam budidaya pertanian di Indonesia.
Agung menambahkan bahwa narasi dalam video yang menyebutkan terpaksa menggunakan paracetamol karena harga pupuk mahal akibat jatuhnya nilai tukar rupiah, kemungkinan didorong oleh upaya petani mencari alternatif yang lebih murah di tengah tingginya biaya produksi. Namun, dari sisi ilmiah dan kebijakan, praktik tersebut belum memiliki dasar rekomendasi resmi dan sebaiknya tidak dipopulerkan sebelum ada hasil penelitian komprehensif mengenai efektivitas, keamanan, dampak lingkungan, serta potensi residu pada hasil panen.
Meskipun demikian, Agung mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi harga sebagian bahan baku industri pupuk dan pestisida. Pemerintah terus berupaya menjaga pasokan melalui koordinasi dengan produsen, distributor, dan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan petani tetap terpenuhi dan menjaga ketersediaan serta keterjangkauan sarana produksi pertanian.