bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Kepala Instagram Adam Mosseri berpendapat bahwa peningkatan konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) justru berpotensi meningkatkan nilai kreator manusia. Pandangan ini disampaikan di tengah kekhawatiran industri kreatif mengenai maraknya konten sintetis.
Menurut Mosseri, dalam sebuah podcast yang tayang pada Kamis (9/7) dan dikutip dari Business Insider, di era yang dibanjiri konten sintetis, masyarakat justru akan semakin mencari kreativitas, keaslian, dan sentuhan personal dari manusia. Ia menjelaskan bahwa Instagram, di bawah naungan Meta, telah lama berinvestasi pada kreator karena pengguna lebih tertarik pada sosok di balik konten daripada konten itu sendiri.
Mosseri melanjutkan bahwa Instagram sejak awal tidak hanya berfokus pada konten, tetapi juga pada individu yang membuatnya, perspektif mereka, dan alasan di balik pembagian konten. Ia meyakini faktor-faktor inilah yang akan menjadi semakin krusial seiring dengan melimpahnya konten buatan AI.
Pernyataan ini muncul saat industri kreator menghadapi tantangan dari menjamurnya influencer AI, model virtual, dan video sintetis. Kekhawatiran muncul di kalangan kreator bahwa teknologi ini dapat mengancam mata pencaharian mereka, terutama karena merek-merek mulai menjajaki penggunaan sosok digital yang tidak memerlukan kompensasi seperti gaji, cuti, atau istirahat.
Meskipun demikian, Mosseri secara konsisten menyatakan bahwa AI pada akhirnya akan meningkatkan nilai konten manusia yang otentik. Ia pernah menyebut pada Desember lalu bahwa AI telah 'membunuh' estetika citra di Instagram, karena gambar yang terlalu sempurna kini dianggap mudah diproduksi dan kurang menarik.
Di sisi lain, Mosseri melihat AI sebagai faktor pendorong positif bagi Instagram, meskipun ia mengakui adanya tantangan yang menyertainya. Alih-alih membatasi unggahan hasil AI, Mosseri menyarankan Instagram untuk lebih fokus membantu pengguna mengidentifikasi jenis konten yang mereka lihat. Ia berpendapat bahwa pelabelan konten sebagai buatan AI sudah cukup, tanpa perlu melakukan penyaringan.
Ia menekankan bahwa kualitas konten dan sosok di baliknya harus menjadi penilaian utama, bukan alat yang digunakan untuk pembuatannya. Mosseri menambahkan bahwa Instagram perlu meningkatkan kemampuannya dalam membedakan konten AI berkualitas tinggi dari yang berkualitas rendah, namun ia tetap meyakini bahwa keunggulan jangka panjang platform ini terletak pada kemampuannya menghubungkan antarmanusia.