bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan tingkat kesepian di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh pembatasan interaksi sosial dan rusaknya ruang publik yang biasa digunakan untuk berkumpul.
Fenomena cuaca ekstrem seperti badai, gelombang panas, banjir, dan kebakaran hutan dapat menyebabkan pembatalan acara festival, terhentinya kegiatan komunitas, dan mendorong warga untuk mengurung diri di rumah. Fiona Doherty, seorang asisten profesor bidang pekerjaan sosial di University of Tennessee, menekankan bahwa hubungan sosial merupakan elemen krusial bagi kesejahteraan individu dan masyarakat.
Dalam penelitiannya yang mengaitkan krisis sosial dan lingkungan, termasuk keterasingan sosial dan cuaca ekstrem, Doherty menemukan bahwa dampak perubahan iklim yang sering terabaikan adalah potensinya untuk memperburuk epidemi kesepian. Interaksi sosial terbukti membantu menjaga fungsi otak, meredakan stres, bahkan dapat menyelamatkan nyawa saat bencana.
Sebagai contoh, saat suhu melonjak, teman dan tetangga dapat saling berbagi informasi peringatan panas, memeriksa kondisi lansia, serta membantu mencari tempat berlindung yang sejuk. Namun, frekuensi cuaca ekstrem yang meningkat justru dapat melemahkan jejaring sosial ini. Orang cenderung enggan keluar rumah saat cuaca sangat panas atau menghadiri acara publik.
Doherty menjelaskan bahwa panas ekstrem membuat warga memilih untuk tetap berada di dalam ruangan dekat pendingin udara atau kipas angin. Badai dan banjir juga dapat membuat perjalanan menjadi berbahaya atau bahkan tidak memungkinkan, sehingga menyulitkan warga untuk bertemu keluarga atau menghadiri pertemuan sosial.
Lebih lanjut, cuaca ekstrem dapat menyebabkan pemadaman listrik yang mengganggu konektivitas internet dan jaringan seluler. Gangguan ini memutus jalur komunikasi melalui telepon, pesan singkat, media sosial, dan surel, padahal informasi sangat dibutuhkan saat kondisi darurat.
Selain itu, krisis iklim juga dapat mengubah atau merusak tempat-tempat yang memiliki nilai budaya dan sosial. Banjir, misalnya, dapat merusak dan menghilangkan fungsi ruang terbuka yang biasa digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas komunal. Doherty mencontohkan pengalaman pribadinya ketika sebuah danau kecil di kota kelahirannya rusak akibat badai, menghilangkan salah satu tempat berkumpul favorit komunitas.
Kekeringan berkepanjangan juga berisiko menurunkan permukaan air sungai dan danau, meningkatkan ancaman kebakaran hutan, serta merusak hasil pertanian yang menjadi penopang tradisi masyarakat. Hilangnya tempat dan tradisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi pengalaman bersama yang penting untuk menjaga hubungan antargenerasi. Dampak sosial ini diperkirakan paling dirasakan oleh kelompok yang sebelumnya sudah terisolasi, seperti lansia dan warga pedesaan.