bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Tommy Kurniawan, menyoroti tekanan eksternal yang dihadapi perekonomian Indonesia pada Semester I Tahun 2026. Ketidakpastian ekonomi global, kenaikan suku bunga di negara maju, ketegangan geopolitik, dan volatilitas arus modal internasional menjadi faktor penyebabnya.
Situasi ini berdampak pada nilai tukar rupiah yang sempat mencapai titik terendah dalam sejarah modern Indonesia, yaitu Rp 18.100 per dolar AS, sebelum kemudian menguat ke kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Tommy Kurniawan, yang akrab disapa Tomkur, menekankan bahwa pelemahan rupiah ini memerlukan perhatian serius karena tidak hanya memengaruhi sektor riil melalui peningkatan biaya impor dan inflasi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan dengan meningkatkan risiko pasar, kredit, dan likuiditas.
Menurut Tomkur, depresiasi nilai tukar yang berkepanjangan dapat memberatkan perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing, khususnya yang bergantung pada impor bahan baku dan pembiayaan luar negeri. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menurunkan kemampuan bayar debitur dan berdampak negatif pada kualitas aset perbankan. Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah harus dilihat sebagai isu lintas sektor yang memerlukan koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor jasa keuangan.
Meskipun demikian, Tomkur menilai sektor perbankan nasional masih menunjukkan ketahanan pada Semester I Tahun 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026 menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,98 persen secara tahunan mencapai Rp 8.755 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 11,39 persen menjadi Rp 10.077 triliun. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan tetap terjaga di tengah tekanan pasar keuangan global.