bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 21:56 WIB

Luhut Jelaskan Kenaikan Angka Kemiskinan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Redaksi 25 Juni 2026 9 views
Luhut Jelaskan Kenaikan Angka Kemiskinan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengemukakan alasan di balik peningkatan jumlah penduduk miskin meskipun ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan sebesar 5 persen.

Menurut Luhut, salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena ini adalah kenaikan harga barang-barang. Ia menyatakan bahwa DEN telah melakukan perhitungan terkait hal tersebut, meskipun detail angkanya tidak ia ingat secara spesifik.

"Itu terjadi bisa mungkin karena kenaikan harga. Kita ada datanya, saya nggak ingat. Dewan Ekonomi sudah menghitung mengenai itu," ujar Luhut di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (24/6), seperti dikutip Detikfinance.

Luhut tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut. Ia menekankan pentingnya pemerintah untuk memastikan efisiensi dalam pelaksanaan berbagai program yang ada.

"Kalau ekonomi itu akan tumbuh, bagus. Kita kan harus perhatikan efisiensi. Efisiensi juga tadi target semua yang kita kerjakan," tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki rentang waktu yang terbatas untuk memanfaatkan bonus demografi, yang diperkirakan akan berakhir dalam satu dekade mendatang. Jika tidak dikelola dengan baik, pencapaian target Indonesia Emas 2045 akan menjadi lebih sulit.

"Kita juga harus betul-betul menyadari semua bersama bahwa bonus demografi itu akan habis 10 tahun dari sekarang. Kalau kita tidak bekerja dengan baik, maka 2045 itu nanti sulit tercapai," imbuhnya.

Luhut meyakini bahwa target Indonesia Emas 2045 dapat terealisasi apabila pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat bekerja sama secara solid. Pemanfaatan teknologi dalam sistem pemerintahan juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi dan menekan angka korupsi.

"Kalau kita semua kompak, itu saya kira nggak ada masalah. Apalagi dengan government technology ini, akan pasti mengurangi korupsi, dan teknologi ini dibuat oleh anak-anak Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menyoroti ketidaksesuaian antara data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5 persen per tahun dalam tujuh tahun terakhir dengan kondisi riil di lapangan, di mana angka kemiskinan justru bertambah.

"Logikanya selama 7 tahun Indonesia tambah kaya 30 persen, 35 persen," ujar Prabowo di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6). Namun, ia mengamati bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi tersebut, justru rakyat miskin bertambah dan sebagian kelas menengah kembali terperosok ke dalam kemiskinan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.