bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:39 WIB

Mahasiswa Undip Kembangkan Kecoak Hybrid untuk Cari Korban Bencana

Redaksi 21 September 2026 9 views
Mahasiswa Undip Kembangkan Kecoak Hybrid untuk Cari Korban Bencana
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sekelompok mahasiswa jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip) berhasil merancang inovasi bio‑hybrid robotics yang memanfaatkan kecoak berdesis Madagaskar sebagai agen pencari dalam operasi penyelamatan korban bencana alam.

Proyek yang dinamai Roach Detect muncul karena tim merasa prihatin dengan keterbatasan tim SAR dalam menembus celah‑celah sempit pada reruntuhan yang sering tidak dapat dijangkau oleh robot konvensional, anjing penyelamat, maupun peralatan berat.

Mahasiswa menjelaskan bahwa ukuran kecil kecoak serta kemampuan merayapnya memungkinkan penetrasi ke ruang‑ruang sempit, sehingga dapat meningkatkan efektivitas pencarian. Selain itu, pergerakan kecoak tidak memerlukan energi tambahan; baterai hanya dipakai untuk mengoperasikan sensor dan modul kontrol.

Uji coba simulasi menunjukkan Roach Detect mampu menelusuri celah‑celah sempit pada area rawan longsor, dimana anjing SAR tidak dapat masuk dan penggunaan alat berat berpotensi memperparah kerusakan.

Berbeda dengan robot tradisional yang cenderung tersangkut, mengonsumsi daya tinggi, dan memiliki mekanisme rumit, sistem bio‑hybrid ini mengandalkan insting mobilitas alami kecoak, menjadikannya lebih efisien, hemat energi, dan lincah.

Saat ini tim tengah menekankan miniaturisasi komponen hardware, integrasi kecerdasan buatan pada navigasi, serta peningkatan jangkauan transmisi di lingkungan dengan hambatan beton tebal. Tujuannya agar kecoak dapat beroperasi secara otonom tanpa kontrol manual terus‑menerus.

Setiap kecoak dilengkapi dengan "electronic backpack" yang berisi mikrokontroler ESP32‑C6 SuperMini, yang menggabungkan Wi‑Fi bawaan, pemrosesan data orientasi dari giroskop, serta sensor termal. Kamera termal tipe AMG8833 dengan resolusi 8×8 diproses lewat AI pada modul ESP32‑C6 untuk meningkatkan resolusi menjadi 32×32, memungkinkan deteksi suhu tubuh korban secara akurat meski di dalam debu tebal.

Data yang dikumpulkan dikirim secara real‑time melalui jaringan Wi‑Fi 2.4 GHz ke tim SAR di luar area bencana, menampilkan peta panas (heat map) dan indikasi keberadaan korban pada monitor operator.

Untuk mengendalikan pergerakan kecoak, tim menggunakan metode navigasi berbasis stimulasi listrik (Electrical Stimulation‑Based Navigation). Pulsa gelombang kotak dengan tegangan 3 V dan duty cycle 50 % dikirimkan ke antena kecoak, memicu respons gerakan sesuai perintah.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.