bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, sebanyak 88 persen pelaku usaha dan investor di seluruh dunia telah melakukan penyesuaian terhadap strategi alokasi modal mereka. Perubahan ini merupakan respons terhadap peningkatan ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh berbagai faktor seperti gejolak geopolitik, tren kenaikan suku bunga global, serta tekanan terhadap likuiditas perusahaan.
Sebuah survei yang dilakukan oleh HSBC terhadap 3.000 pelaku usaha dan investor global menunjukkan bahwa 88 persen responden telah menyusun ulang alokasi modal untuk menghadapi volatilitas pasar yang semakin meningkat. Selain itu, 89 persen dari responden juga dilaporkan meningkatkan penempatan modal di pasar-pasar yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.
Delia Melissa, Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, menjelaskan bahwa kondisi ini menjadikan akses terhadap modal kerja semakin krusial. Hal ini terutama penting bagi para pelaku usaha yang berupaya menjaga kelancaran operasional bisnis sekaligus memperluas jangkauan pasar ekspor mereka. Menurutnya, di tengah volatilitas yang meningkat, siklus pembayaran yang panjang, dan biaya operasional yang terus naik, modal kerja menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga likuiditas dan mendorong pertumbuhan. Kemudahan akses terhadap modal kerja dianggap sebagai faktor penentu daya saing, khususnya bagi pebisnis Indonesia yang tengah melakukan ekspansi ke pasar ekspor.
HSBC juga mencatat bahwa kebutuhan pembiayaan usaha di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan positif aktivitas perdagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,30 miliar dolar AS, yang berarti naik 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai impor pada periode yang sama juga meningkat sebesar 22,49 persen menjadi 25,21 miliar dolar AS.
Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan tersebut, HSBC Indonesia telah memperkenalkan HSBC TradeCash. Layanan pembiayaan perdagangan ini dirancang untuk memungkinkan pelaku usaha mendapatkan modal kerja dengan lebih cepat melalui pengajuan faktur penjualan secara digital, tanpa memerlukan dokumen perdagangan konvensional. Vivek Ramachandran, Global Head of Trade HSBC, menyatakan bahwa layanan ini bertujuan untuk membantu perusahaan mendapatkan pendanaan lebih cepat sekaligus mengurangi beban administrasi. Dengan menyediakan akses pendanaan yang cepat, bisnis dapat lebih memfokuskan perhatian pada pemenuhan pesanan, investasi, dan ekspansi, daripada terbebani oleh pengelolaan dokumen.
HSBC menilai bahwa ketidakpastian geopolitik dan perang tarif global telah berkontribusi pada kenaikan harga barang dan mengganggu rantai pasok dunia. Situasi ini menuntut pelaku usaha untuk memiliki akses pembiayaan yang lebih cepat demi menjaga arus kas tetap stabil dan kelangsungan kegiatan usaha.