bytedaily
Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:21 WIB

Mayoritas Perusahaan Indonesia Masih Mengadopsi Pendekatan Reaktif terhadap Gangguan IT

Redaksi 27 Agustus 2026 1 views
Mayoritas Perusahaan Indonesia Masih Mengadopsi Pendekatan Reaktif terhadap Gangguan IT
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pakar Teknologi Informasi mengungkapkan bahwa mayoritas perusahaan dan organisasi di Indonesia masih menerapkan strategi reaktif dalam menangani insiden gangguan sistem IT. Banyak dari mereka belum sepenuhnya siap untuk beralih ke metode proaktif dalam pengelolaan IT.

Menurut Hanief Bastian, Technical Manager ManageEngine Indonesia, pendekatan reaktif berarti penanganan gangguan IT baru dilakukan setelah masalah terjadi. Perusahaan cenderung fokus pada identifikasi dan perbaikan masalah ketika sistem sudah bermasalah, yang sering diibaratkan sebagai tindakan 'pemadam kebakaran'. Sebaliknya, pendekatan proaktif melibatkan prediksi dan deteksi dini untuk mencegah terjadinya gangguan sebelum insiden muncul.

"Di Indonesia, masih banyak organisasi yang masih belum secara mature berpindah ke proaktif ataupun resilience IT operational. Mereka sebagian besar masih melakukan sistem reaktif, baru ketika ada kejadian melakukan firefighting," ujar Hanief Bastian dalam keterangannya kepada CNNIndonesia.com di Jakarta, Rabu (26/8).

Kondisi ini berakibat pada tim IT yang terus-menerus disibukkan oleh penanganan insiden, sehingga mengurangi waktu yang tersedia untuk pengembangan jangka panjang, inovasi, atau peningkatan infrastruktur.

Selain itu, masih terdapat pandangan di kalangan manajemen bahwa departemen IT hanya berfungsi sebagai pendukung, bukan sebagai elemen strategis yang dapat mendorong pertumbuhan bisnis. Hanief menekankan pentingnya perubahan pola pikir ini agar perusahaan bersedia berinvestasi dalam sistem proaktif dan ketahanan operasional sebagai bagian integral dari strategi bisnis.

"Mereka juga harus bisa melihat bahwa IT bisa juga mendukung perkembangan bisnis mereka. Itulah mindset yang harus diterima dari sisi manajemen," tambahnya.

Hanief mengidentifikasi beberapa hambatan yang menghalangi migrasi dari sistem reaktif ke proaktif. Salah satunya adalah kompleksitas infrastruktur dan aplikasi yang digunakan oleh perusahaan, di mana seringkali terdapat berbagai alat dari vendor yang berbeda dengan antarmuka terpisah. Hal ini memaksa tim IT untuk secara manual mengintegrasikan dan menganalisis data demi memahami kondisi lingkungan mereka.

Banyak perusahaan juga keliru menganggap bahwa pencadangan data (backup) sudah cukup untuk memastikan ketahanan sistem terhadap gangguan. Hanief menjelaskan bahwa meskipun backup penting sebagai metode pemulihan, proses pemulihan itu sendiri membutuhkan waktu, yang bisa memakan jam, hari, atau bahkan minggu.

Oleh karena itu, perusahaan perlu mengembangkan kemampuan untuk mendeteksi pola atau indikasi kegagalan lebih dini agar tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum sistem mengalami downtime. Hanief juga mengingatkan tentang potensi kerugian yang timbul akibat gangguan sistem, termasuk kehilangan pendapatan, penurunan kepercayaan pelanggan, dan pelanggaran kontrak. Untuk menghindarinya, perusahaan perlu beralih ke pendekatan sistem IT yang lebih proaktif.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.