bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) mengalami pelemahan signifikan sebesar 15,83 persen atau senilai Rp38 dalam sebulan terakhir, ditutup pada level Rp200 per saham pada Jumat (21/8). Penurunan ini terjadi setelah saham RANS sempat diperdagangkan dalam rentang Rp200 hingga Rp240. Meskipun mengalami koreksi, harga saham RANS saat ini masih berada di atas harga penawaran umum perdana (IPO) yang ditetapkan sebesar Rp170 per saham, memberikan kenaikan matematis sekitar 17,6 persen.
RANS memulai pencatatannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026, dengan menawarkan 2,525 miliar saham seharga Rp170 per saham dalam aksi IPO yang menghimpun dana Rp429 miliar. Porsi saham yang dilepas ke publik mencapai 19,96 persen.
Penurunan pergerakan saham RANS ini beriringan dengan menurunnya kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2025. Berdasarkan data Stockbit, pendapatan RANS tercatat Rp353 miliar pada 2025, lebih rendah dibandingkan Rp410 miliar pada 2024 dan Rp438 miliar pada 2023. Laba kotor RANS juga menurun menjadi Rp153 miliar pada 2025 dari Rp159 miliar pada 2024, sementara laba usaha terpangkas dari Rp88 miliar menjadi Rp76 miliar. Penurunan yang lebih drastis terlihat pada laba sebelum pajak yang anjlok dari Rp127 miliar pada 2024 menjadi Rp76 miliar pada 2025, serta laba bersih dari operasi yang dilanjutkan turun dari Rp108 miliar menjadi Rp57 miliar.
Saat ini, RANS memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp2,55 triliun dengan rasio price-to-earnings (P/E) 41,72 kali. Analis Pasar Saham Ibrahim Assuaibi berpendapat bahwa penurunan saham RANS pasca-IPO merupakan bagian dari proses pencarian harga wajar oleh pasar. Ia menjelaskan bahwa saham perusahaan yang baru melantai di bursa seringkali mengalami kenaikan awal sebelum terkoreksi, terutama jika terkait dengan isu politik atau penggunaan dana besar. Menurutnya, koreksi ini menunjukkan pasar sedang menguji batas harga yang dapat diterima untuk saham RANS.