bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan aksi peternak ayam petelur yang berdemonstrasi dan membuang telur terjadi saat harga jual di tingkat peternak turun hingga tidak cukup untuk menutup biaya produksi, terutama pakan.
Budi menyebut harga telur rata-rata nasional kini mencapai Rp26.800 per kilogram, mendekati harga acuan Rp30.000 per kilogram. Sebelumnya, harga di tingkat peternak berada pada kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Menurutnya, harga serendah itu membuat peternak kesulitan membeli pakan.
Pemerintah menetapkan harga acuan dengan mempertimbangkan biaya produksi dan distribusi serta kemampuan konsumen. Budi mengatakan harga yang terlalu rendah berisiko membuat peternak menghentikan usaha, yang dapat mengurangi pasokan dan menyebabkan harga telur naik. Sebaliknya, harga juga perlu dijaga agar tidak membebani konsumen. Harga acuan pembelian Rp30.000 per kilogram, menurut Budi, berlaku sejak Juni 2024.
Laporan tersebut juga menyebut sekitar 1.050 peternak dari sejumlah daerah menggelar aksi di depan Gedung DPR RI. Mereka menyuarakan penurunan harga telur di tingkat peternak dan tingginya biaya pakan.
Dalam rapat dengar pendapat dengan Pinsar Petelur Nasional pada Rabu (7/10), pengurus organisasi itu, Suwardi, mengatakan harga telur sejak April berada di bawah harga acuan pembelian Badan Pangan Nasional sebesar Rp26.500 per kilogram. Ia menyebut harga rata-rata berkisar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp17.100 per kilogram pada Juni. Peternak diperkirakan merugi sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram per hari, sementara biaya produksi, terutama pakan, meningkat.
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto mengatakan akan menyampaikan keluhan peternak kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menyatakan akan meminta pemerintah mengupayakan penyerapan telur melalui program pemerintah dan menstabilkan harga jagung yang menjadi salah satu bahan pakan ternak.