bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pembangunan data center kecerdasan buatan (AI) perlu mempertimbangkan kebutuhan komputasi sekaligus ketersediaan energi dan air bagi masyarakat. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan data center tidak boleh mengganggu energi untuk layanan publik.
Meutya menyampaikan hal itu di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Rabu (7/10). Ia mengatakan koordinasi lintas sektor perlu dilakukan sebelum izin pembangunan diberikan.
Komdigi, kata Meutya, akan memetakan kebutuhan komputasi di Indonesia, jumlah pengguna internet, serta lokasi yang memiliki konektivitas memadai. Penentuan lokasi juga harus mempertimbangkan ketersediaan air, kebutuhan energi, dan kualitas sinyal.
Meutya menegaskan pembangunan data center tidak seharusnya dilakukan secara berlebihan atau tanpa perhitungan matang. Lokasi fasilitas perlu disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak mengganggu pasokan air maupun energi masyarakat, sementara kebutuhan komputasi tetap terpenuhi.
Proyek data center AI BDx Data Centers di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, sebelumnya dihentikan sementara oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Proyek senilai Rp3,5 triliun itu terkendala proses perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).