bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi membuka ruang fiskal tambahan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya menjelaskan bahwa sebelumnya pemerintah telah mengalokasikan sebagian anggaran untuk mengantisipasi kenaikan subsidi energi akibat gejolak harga global. Jika situasi geopolitik stabil dan harga energi kembali normal, kebutuhan subsidi akan berkurang, sehingga dana tersebut dapat dialihkan untuk membiayai program-program prioritas presiden.
Kendati demikian, Purbaya menekankan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi global sebelum mengambil langkah penyesuaian kebijakan fiskal lebih lanjut. Ia juga mengungkapkan rencana perjalanannya ke Tiongkok untuk bertemu investor guna membahas penerbitan panda bond, meskipun target dana yang ingin dihimpun belum dirinci.
Dalam perkembangan lain, Kementerian Keuangan terus berupaya melakukan reformasi birokrasi dengan menghilangkan sekat antarunit kerja (silo) untuk meningkatkan efektivitas koordinasi. Purbaya mencontohkan perbaikan kerja sama antara Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang kini dinilai lebih lancar. Selain itu, Komisi XI DPR telah menyetujui pagu indikatif Kementerian Keuangan tahun anggaran 2027 sebesar Rp 49,8 triliun yang akan difokuskan untuk menjaga stabilitas fiskal, peningkatan kualitas layanan publik, dan mendukung transformasi ekonomi.