bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui bahwa biaya produksi beras di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam, yang sebagian besar disebabkan oleh besarnya subsidi pemerintah di negara‑negara tersebut.
Amran menjelaskan bahwa di Vietnam, Amerika Serikat, China, dan negara lain subsidi mencapai 70‑80 persen, sementara di Indonesia persentasenya jauh lebih rendah. Ia menambahkan bahwa penambahan subsidi masih terbatas oleh kapasitas anggaran negara (APBN), namun pemerintah telah menyiapkan dukungan alternatif berupa tambahan Stok Pokok Hasil Pertanian (SPHP) jagung sebanyak 150 ribu ton untuk membantu peternak.
Pernyataan Amran merupakan tanggapan atas perbandingan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang menyebutkan biaya produksi 1 kilogram beras di Thailand dan Vietnam sekitar Rp3.800, sedangkan di Indonesia mencapai sekitar Rp12.000. Hasan menilai perbedaan tersebut dipengaruhi oleh teknologi, penggunaan varietas unggul, dan manajemen sawah yang lebih efisien di negara‑negara tersebut.
Hasan juga menyoroti tingginya biaya produksi komoditas lain, seperti tebu di Lumajang yang memerlukan sekitar Rp14.000 per kilogram, jauh di atas biaya di India dan Brasil yang kurang dari Rp4.000. Pada sektor kedelai, produktivitas Indonesia hanya sekitar 1 ton per hektar, sementara negara yang mengembangkan rekayasa genetik dapat mencapai hingga 10 ton per hektar, yang berimbas pada harga kedelai domestik yang tiga hingga empat kali lebih tinggi.
Selain itu, Hasan menegaskan ketergantungan Indonesia pada bibit impor untuk hampir seluruh tanaman pangan, dan menilai bahwa masalah biaya, produktivitas, teknologi, serta bibit saling terkait membentuk rangkaian tantangan yang belum terselesaikan di sektor pangan.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, juga mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam, namun menekankan perbedaan karakteristik dan kompleksitas makroekonomi kedua negara. Ia mencatat bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I dengan kondisi makroekonomi yang tetap terjaga.