bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Universitas Nasional Singapura (NUS) telah mengumumkan kebijakan baru terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kampusnya. Mulai 31 Agustus, seluruh mahasiswa, dosen, dan staf akan diberikan akses ke ChatGPT Edu, sebuah versi khusus yang dirancang untuk institusi pendidikan tinggi. Kemitraan dengan OpenAI ini juga mencakup fitur privasi dan keamanan yang lebih kuat, serta jaminan bahwa data percakapan tidak akan digunakan untuk melatih model AI.
Lebih lanjut, sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap perkembangan teknologi AI, NUS mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk mengikuti mata kuliah dasar tentang AI generatif. Kebijakan ini akan mulai diterapkan pada tahun akademik 2026/2027. Mata kuliah bernama THE1008 Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation ini akan menjadi bagian dari program Transition to Higher Education (T.H.E.).
Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa akan dibekali keterampilan praktis dalam menggunakan large language model (LLM) dan berbagai perangkat AI multimodal. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada cara membuat perintah (prompt), tetapi juga pada kemampuan mengevaluasi hasil yang diberikan AI secara kritis dan akurat. NUS menargetkan lulusannya tidak hanya mahir menggunakan AI, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana teknologi tersebut diterapkan secara tepat dan strategis, sejalan dengan kebutuhan bidang studi masing-masing.
Profesor Aaron Thean, Deputy President (Academic Affairs) sekaligus Provost NUS, menegaskan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan kemampuan manusia, melainkan untuk memperkuatnya. Ia menyatakan bahwa teknologi AI akan dimanfaatkan sebagai penguat kemampuan intelektual, kreativitas, dan penilaian manusia.