bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 03:45 WIB

NUS Sediakan Akses ChatGPT untuk Civitas Akademika, Mahasiswa Baru Wajib Ikuti Kuliah AI

Redaksi 18 Agustus 2026 1 views
NUS Sediakan Akses ChatGPT untuk Civitas Akademika, Mahasiswa Baru Wajib Ikuti Kuliah AI
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Universitas Nasional Singapura (NUS) telah memberikan akses terhadap ChatGPT kepada seluruh mahasiswa, dosen, dan stafnya. Selain itu, universitas yang dinobatkan sebagai peringkat teratas di Asia ini juga mewajibkan semua mahasiswa baru untuk mengambil mata kuliah mengenai kecerdasan buatan (AI).

Langkah ini akan mulai diimplementasikan pada tahun akademik 2026/2027 sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan teknologi AI dalam sektor pendidikan.

NUS mengumumkan kemitraannya dengan OpenAI pada tanggal 11 Agustus melalui situs resminya. Melalui kolaborasi ini, dosen dan staf NUS akan dapat mengakses ChatGPT Edu mulai 31 Agustus.

ChatGPT Edu merupakan versi khusus yang dikembangkan untuk institusi pendidikan tinggi, menawarkan akses lebih luas ke kapabilitas inti OpenAI dalam lingkungan yang dikelola oleh universitas, dengan fitur privasi, keamanan, dan kontrol administratif yang lebih kuat. NUS juga menjamin bahwa data dan percakapan di lingkungan kampus tidak akan digunakan untuk melatih model AI OpenAI.

Perlu dicatat, NUS menduduki peringkat teratas di antara universitas-universitas Asia berdasarkan QS World University Rankings 2027.

Chief Information Technology Officer sekaligus Vice President NUS, Tan Shui-Min, menekankan pentingnya penggunaan AI yang aman dan berkelanjutan di lingkungan kampus. "Seiring AI semakin terintegrasi dalam cara NUS beroperasi, penting bagi kami untuk mengadopsinya secara aman, terukur, dan berkelanjutan," ujarnya dalam pernyataan resmi universitas.

Sementara itu, Deputy President (Academic Affairs) sekaligus Provost NUS, Profesor Aaron Thean, menegaskan bahwa teknologi AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan kapabilitas manusia. Sebaliknya, AI akan berfungsi untuk memperkuat kemampuan berpikir, kreativitas, dan penilaian manusia. "Kami bertujuan memanfaatkan teknologi AI canggih ini bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai penguat kemampuan intelektual, kreativitas, dan penilaian manusia," jelasnya.

Mulai tahun akademik 2026/2027, seluruh mahasiswa sarjana tahun pertama di NUS diwajibkan menyelesaikan mata kuliah dasar tentang AI generatif yang diberi nama THE1008 Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation. Mata kuliah ini merupakan bagian dari program Transition to Higher Education (T.H.E.).

Melalui mata kuliah ini, mahasiswa akan dibekali keterampilan praktis dalam memanfaatkan large language model (LLM) serta berbagai alat AI multimodal. Pembelajaran tidak hanya mencakup cara membuat perintah (prompt), tetapi juga melatih mahasiswa untuk mengevaluasi hasil yang diberikan oleh AI secara kritis dan akurat.

Kebijakan ini sejalan dengan strategi NUS untuk mengintegrasikan kompetensi AI di berbagai tingkatan pendidikan di kampus. Setelah menyelesaikan mata kuliah dasar, pengembangan kemampuan AI mahasiswa akan terus berlanjut melalui kurikulum umum maupun program studi spesifik.

NUS menargetkan lulusannya tidak hanya mahir menggunakan AI, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana teknologi tersebut diterapkan secara tepat. Diharapkan, para lulusan mampu memanfaatkan AI secara strategis, menilai informasi yang dihasilkan AI secara kritis, serta mengaplikasikannya sesuai kebutuhan bidang studi masing-masing, sembari tetap menekankan pentingnya kemampuan yang berpusat pada manusia.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.