bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 05:54 WIB

Pakar: Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau Bukan Gunung Api Baru

Redaksi 24 September 2026 14 views
Pakar: Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau Bukan Gunung Api Baru
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau bukan gunung api baru atau “cucu Krakatau”. Daratan itu terbentuk dari endapan material vulkanik, seperti abu, batuan, dan lava, yang berasal dari erupsi Anak Krakatau.

Daratan seluas lebih dari 30 hektare tersebut muncul di perairan sekitar gunung itu setelah erupsi. Menurut Daryono, material vulkanik menumpuk secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung hingga akhirnya mencapai permukaan laut. Ia menyampaikan penjelasan itu kepada CNNIndonesia.com pada Rabu (23/9).

Terbentuknya daratan di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi kondisi geologi dan oseanografi. Dasar laut di cekungan atau kaldera bekas letusan Krakatau pada 1883 tergolong dangkal, sementara lontaran batuan, magma, dan aliran lava saat erupsi banyak mengarah ke kawasan tersebut.

Arus dan gelombang di Selat Sunda turut memindahkan material erosi ringan ke perairan yang lebih tenang, tempat material itu kemudian mengendap. Keberadaan daratan tersebut dapat bertahan dan meluas, atau terkikis hingga hilang, bergantung pada aktivitas vulkanik serta proses erosi.

Jika erupsi terus berlangsung, pasokan material baru dapat memperluas daratan dan lapisan lava yang membeku bisa membuatnya lebih kokoh. Sebaliknya, bila erupsi berhenti, gelombang serta abrasi laut berpotensi mengikis endapan yang belum padat. Longsoran bawah laut atau erupsi besar juga dapat merusak struktur daratan tersebut.

Daryono menyebut daratan itu belum memenuhi tiga kriteria untuk dikategorikan sebagai gunung api baru, yaitu memiliki saluran magma sendiri, menghasilkan erupsi magmatik sendiri, serta mempunyai struktur geologis dan deformasi yang terpisah. Saluran magma harus terhubung ke dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari kawah induk. Aktivitas erupsi juga harus berasal dari daratan itu sendiri, bukan dari gunung di sekitarnya. Adapun deformasi dapat berupa gempa vulkanik lokal atau pengangkatan tanah yang berpusat di bawah daratan tersebut.

Ia mengimbau masyarakat tidak mudah terpengaruh isu spekulatif di media sosial dan tetap tenang. Daryono menyatakan kemunculan daratan itu merupakan proses sedimentasi vulkanik yang lazim di kawasan gunung api aktif. Masyarakat juga diminta mematuhi rekomendasi petugas untuk menjaga jarak aman dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi.

Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menyampaikan perluasan daratan terdeteksi melalui evaluasi citra satelit Sentinel.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.