bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Eropa saat ini tengah menghadapi gelombang panas terparah dalam catatan sejarah. Para ilmuwan menduga kuat bahwa krisis iklim, yang dipicu oleh aktivitas pembakaran bahan bakar fosil, menjadi penyebab utama fenomena ini.
Kondisi ini berdampak pada hampir separuh dari 850 kota besar di Eropa, yang kini mengalami tingkat stres panas tertinggi. Tingginya kelembapan udara membuat proses pendinginan tubuh melalui keringat menjadi kurang efektif, sehingga gelombang panas menjadi lebih berbahaya bagi kesehatan.
Analisis ini muncul bersamaan dengan Inggris yang mencatat rekor suhu tertinggi bulan Juni, mencapai 36,7 derajat Celsius di Somerset. Di berbagai wilayah Eropa Barat, terjadi lonjakan kasus darurat medis yang signifikan, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan berujung pada kematian.
Studi terbaru dari konsorsium World Weather Attribution (WWA) menunjukkan percepatan memburuknya cuaca ekstrem seiring peningkatan polusi karbon di atmosfer. Sebagai perbandingan, gelombang panas serupa yang terjadi pada tahun 2003 diperkirakan akan memiliki suhu 2 derajat Celsius lebih rendah karena pemanasan global yang belum separah saat ini. Bahkan jika dibandingkan dengan gelombang panas bersejarah tahun 1976, suhu saat itu masih 3,5 derajat Celsius lebih sejuk.
Para ilmuwan menekankan bahwa tanpa tindakan segera untuk mengatasi krisis iklim, kondisi di masa depan akan jauh lebih ekstrem. Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London yang merupakan bagian dari tim WWA, menyatakan bahwa gelombang panas saat ini merupakan yang terparah dan terluas di Eropa. Ia menambahkan bahwa peluang terjadinya fenomena ini melonjak drastis seiring pemanasan global sebesar 1,1 derajat Celsius dalam 50 tahun terakhir, dan mustahil terjadi di bulan Juni tanpa perubahan iklim.
Untuk mengukur dampak kelembapan tinggi, para ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) yang mengukur kemampuan tubuh manusia untuk mendinginkan diri. Kepala Iklim PBB, Simon Stiel, menegaskan bahwa krisis iklim semakin tidak terkendali akibat ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas bumi. Ia menyerukan percepatan transisi ke energi bersih yang lebih murah dan perlindungan hutan.
Dalam penelitiannya, WWA menggunakan data suhu riil dan prakiraan cuaca untuk menganalisis periode tiga hari terpanas di Eropa. Pengujian ilmiah yang ketat mengkonfirmasi bahwa krisis iklim adalah penyebab utama panas ekstrem ini, sekaligus membantah kemungkinan variasi cuaca alami seperti El Nino.