bytedaily
Minggu, 05 Juli 2026 - 07:41 WIB

Pakar Perkirakan 10 Persen Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite Akibat Kenaikan Harga

Redaksi 14 Juni 2026 12 views
Pakar Perkirakan 10 Persen Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite Akibat Kenaikan Harga
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, seorang pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, memprediksi bahwa sekitar 10 persen dari konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) akan beralih ke Pertalite menyusul adanya kenaikan harga Pertamax. Perkiraan ini didasarkan pada pengalaman pada April 2022, di mana setelah kenaikan harga Pertamax sebesar 39 persen, sekitar satu dari delapan pembeli beralih ke Pertalite.

Yayan menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak serta-merta mengurangi intensitas bepergian masyarakat, melainkan mengarahkan mereka untuk menggunakan Pertalite yang harganya lebih terjangkau. Harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Dengan selisih harga mencapai Rp6.250 per liter, yang merupakan selisih terbesar dalam sejarah, Yayan meyakini kuota Pertalite masih mencukupi untuk menampung perpindahan konsumen ini, dengan hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang diperkirakan akan terpakai.

Lebih lanjut, Yayan membedah dampak kenaikan harga Pertamax terhadap berbagai lapisan masyarakat. Pemilik mobil yang mengonsumsi 100 liter Pertamax per bulan diperkirakan akan mengalami penambahan biaya sekitar Rp395 ribu, sementara pengendara motor dengan konsumsi 30 liter per bulan akan merasakan kenaikan sekitar Rp119 ribu. Bagi kelompok rumah tangga termiskin (Desil 1), dampak ini dinilai minim karena mereka jarang menggunakan Pertamax. Namun, kelas menengah (Desil 5–7) diprediksi akan beralih ke Pertalite. Kelompok menengah atas (Desil 8–9) yang merupakan pengguna mobil reguler akan merasakan peningkatan biaya bulanan. Kelompok rumah tangga terkaya (Desil 10), termasuk armada perusahaan dan kendaraan operasional perkebunan serta tambang yang dilarang menggunakan BBM bersubsidi, akan menanggung beban terbesar. Yayan menyimpulkan bahwa sekitar separuh dari total beban kenaikan ini akan ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya, menjadikan kenaikan Pertamax berfungsi seperti pajak yang lebih membebani kelompok mampu.

Menanggapi potensi migrasi konsumen, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan bahwa stok Pertalite aman dan distribusinya di seluruh jaringan SPBU berjalan normal sesuai penugasan dari pemerintah. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengimbau masyarakat untuk bijak dalam menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan, peruntukan, dan jenis kendaraan yang digunakan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.