bytedaily
Minggu, 26 Juli 2026 - 23:23 WIB

Pembangunan Pusat Data di Inggris Berpotensi Picu Krisis Air, Water UK Beri Peringatan

Redaksi 21 Juli 2026 9 views
Pembangunan Pusat Data di Inggris Berpotensi Picu Krisis Air, Water UK Beri Peringatan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, rencana percepatan pembangunan pusat data di Inggris yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menimbulkan krisis air. Organisasi Water UK, yang mewakili perusahaan penyedia air di Inggris dan Irlandia Utara, memperingatkan bahwa pasokan air negara tersebut mungkin tidak mencukupi kebutuhan pusat data di masa depan jika kebijakan pemerintah tidak mengalami perubahan.

Dalam sebuah dokumen yang disampaikan kepada anggota parlemen, Water UK mengkritik proyeksi kebutuhan air pemerintah yang dianggap keliru karena tidak menyertakan kebutuhan air dari pusat data. Organisasi tersebut juga menyoroti bahwa berbagai kebijakan pemerintah terkait pertumbuhan AI belum membahas secara spesifik persoalan pasokan air.

Menurut Water UK, pusat data memerlukan air dalam jumlah besar untuk proses pendinginan server yang menghasilkan panas. Air digunakan secara langsung pada sistem pendingin, chiller, dan pengatur kelembapan. Selain itu, konsumsi air juga meningkat secara tidak langsung akibat tingginya kebutuhan listrik untuk fasilitas tersebut.

Organisasi itu juga mengkritik kerangka nasional sumber daya air yang diterbitkan Badan Lingkungan Inggris pada Juni 2025 karena belum memperkirakan kebutuhan air pusat data. "Tampaknya ada asumsi bahwa negara akan selalu memiliki cukup air untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Kenyataannya justru jauh dari itu," tulis Water UK, mengutip The Guardian.

Water UK lebih lanjut menyatakan bahwa lebih dari tiga perempat pusat data di Inggris berlokasi di wilayah selatan dan timur, yang merupakan daerah yang sudah mengalami tekanan pada pasokan air. Beberapa wilayah bahkan telah menerapkan larangan penggunaan selang air akibat gelombang panas berkepanjangan dan minimnya curah hujan. Pembangunan pusat data baru di kawasan tersebut dinilai mustahil dilakukan tanpa perubahan kebijakan, mengingat jaringan air yang ada sudah menghadapi tekanan tinggi.

Laporan House of Lords pada Mei lalu juga memproyeksikan Inggris akan mengalami kekurangan pasokan air publik hingga 5 miliar liter per hari pada tahun 2055. Affinity Water, perusahaan penyedia air yang melayani wilayah dengan konsentrasi pusat data terbesar di Inggris, mengungkapkan bahwa sekitar 125 pusat data sedang diusulkan atau dibangun di wilayah layanannya. Perusahaan tersebut mencatat bahwa beberapa pengembang pusat data mengajukan kebutuhan hingga 3 juta liter air per hari, setara dengan kebutuhan sekitar 3.500 rumah saat permintaan puncak.

Water UK memperkirakan konsumsi air oleh pusat data di Inggris saat ini mencapai sekitar 6,6 juta liter air minum setiap hari. Jika kapasitas pusat data meningkat tiga kali lipat pada tahun 2030 sesuai target pemerintah, konsumsi tersebut diprediksi melonjak menjadi sekitar 19,8 juta liter per hari.

Menyikapi potensi krisis ini, Water UK mendesak pemerintah untuk menetapkan prioritas penggunaan air ketika terjadi kekeringan guna mencegah konflik antar sektor. Organisasi tersebut berpendapat bahwa tanpa pedoman yang jelas, distribusi air dapat terganggu di tengah meningkatnya kebutuhan dari masyarakat dan industri.

Di sisi lain, pemerintah Inggris menyatakan komitmennya agar pertumbuhan AI berjalan selaras dengan pembangunan berkelanjutan. Juru bicara pemerintah menegaskan bahwa pemerintah akan tetap melindungi pasokan air sembari mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan mencari alternatif untuk mengurangi dampak pusat data terhadap konsumsi air dan limbah yang dihasilkan. Pemerintah juga mengklaim telah mengambil langkah-langkah tegas untuk menjamin pasokan air dan memenuhi kebutuhan di masa depan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.