bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sejumlah perusahaan teknologi terkemuka di Amerika Serikat seperti Nvidia, Microsoft, Meta, dan IBM telah menyatakan dukungan terhadap model kecerdasan buatan (AI) yang bersifat terbuka atau open source. Pernyataan ini disampaikan melalui sebuah surat kepada anggota parlemen AS, menyusul perdebatan mengenai regulasi model AI. Perdebatan tersebut mencakup model AI terbuka yang dirilis oleh perusahaan China, yang cenderung lebih sulit diatur, dibandingkan dengan model tertutup yang dikendalikan oleh perusahaan tertentu seperti OpenAI dan Anthropic.
Surat yang diunggah di platform X ini ditandatangani oleh sekitar dua lusin perusahaan dan kelompok. CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam unggahan pertamanya di X, mengimbau para pembuat kebijakan untuk tidak terburu-buru memberlakukan pembatasan pada model AI terbuka. Ia berpendapat bahwa model terbuka berkontribusi pada peningkatan keamanan siber, mempercepat inovasi, dan mendukung kedaulatan teknologi suatu negara. Huang menekankan pentingnya keberadaan model AI terdepan, baik yang tertutup maupun yang terbuka, serta mengingatkan bahwa pembatasan dini berisiko menghambat persaingan dan mendorong inovasi berkembang di luar Amerika Serikat.
Salah satu alasan utama para perusahaan teknologi mendukung model AI terbuka adalah terkait biaya penggunaannya. Beberapa pemimpin bisnis di Silicon Valley telah menyuarakan kekhawatiran mengenai tingginya biaya yang terkait dengan penggunaan model tertutup. Model terbuka yang dapat dijalankan oleh pelanggan di pusat data mereka sendiri dianggap dapat membantu mengendalikan biaya operasional AI. Selain itu, perusahaan teknologi juga menyoroti pembatasan penggunaan yang diterapkan oleh OpenAI dan Anthropic pada model-model mereka. Bahkan, Hugging Face, sebuah platform kolaborasi pengembangan AI, menyatakan bahwa mereka terpaksa menggunakan model AI terbuka dari China untuk menjaga kelangsungan sistemnya karena model tertutup memiliki batasan dalam pekerjaan keamanan siber.
Di sisi lain, anggota parlemen AS mulai memberikan perhatian lebih pada potensi risiko model AI yang sulit dikendalikan. Setelah insiden serangan siber yang melibatkan model OpenAI, beberapa anggota parlemen mengusulkan adanya aturan yang mewajibkan fitur tombol pemutus (kill switch) pada model AI. Laporan juga menyebutkan bahwa pemerintahan AS mempertimbangkan sanksi terhadap pembuat model AI terbuka asal China terkait dugaan pencurian teknologi model tertutup milik AS. Meskipun demikian, surat dukungan terhadap model terbuka tersebut mengakui kekhawatiran mengenai pencurian teknologi, namun menyarankan agar masalah ini ditangani melalui kerangka hukum dan komersial yang spesifik, bukan melalui pembatasan yang luas. Para penandatangan surat berargumen bahwa model tertutup tidak secara inheren aman dan dapat disalahgunakan. Sebaliknya, model dengan bobot terbuka memungkinkan komunitas peneliti dan pengembang untuk memeriksa perilakunya, mengidentifikasi kerentanan, membangun mekanisme perlindungan, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.