bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pemerintah Indonesia telah menyiapkan anggaran sekitar Rp400 miliar untuk mempercepat realisasi program swasembada bawang putih. Dana ini difokuskan untuk mendukung pembibitan bawang putih di lahan seluas 5.000 hektare pada tahun ini.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyatakan bahwa program ini merupakan langkah awal strategis untuk menekan angka ketergantungan impor bawang putih yang saat ini masih mendominasi lebih dari 90 persen kebutuhan nasional. "Keinginan Presiden (Prabowo Subianto) adalah bagaimana bawang putih sebagai barang pokok penting ini bisa swasembada," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (17/6).
Menurut Sudaryono, target swasembada bawang putih dinilai lebih realistis dibandingkan dengan beras, mengingat kebutuhan lahan yang relatif lebih kecil. Diperkirakan, Indonesia membutuhkan sekitar 100 ribu hektare lahan tanam bawang putih untuk memenuhi seluruh kebutuhan domestik. Tantangan utama dalam mencapai swasembada ini bukan pada ketersediaan lahan atau minat petani, melainkan pada penyediaan bibit dalam jumlah besar dan adaptif terhadap iklim Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa bawang putih memerlukan kawasan dataran tinggi khusus seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara. Oleh karena itu, fokus utama adalah pada pembibitan secara massal di tiga sentra tersebut. Pemerintah tidak dapat sepenuhnya mengandalkan impor bibit untuk memenuhi target 100 ribu hektare, mengingat keterbatasan jumlah dan perlunya adaptasi bibit impor terhadap kondisi agroklimat Indonesia.
Sebagai solusi, pemerintah akan memperkuat sistem penangkaran bibit oleh petani dengan pendampingan dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan. Dalam skema ini, petani akan menerima bantuan bibit dari pemerintah untuk dikembangkan. Setelah panen, petani diwajibkan mengembalikan bibit sebanyak 1,5 kali dari jumlah yang diterima, sedangkan sisa hasil panen dapat dijual secara bebas oleh petani. "Pemerintah memberikan bridging bibitnya. Jadi petani dikasih bibit, kemudian setelah panen dikembalikan satu setengah kali dan sisanya boleh dijual," jelas Sudaryono.
Biaya pembibitan bawang putih tergolong tinggi, dengan kebutuhan sekitar Rp120 juta per hektare, di mana komponen bibit mencapai Rp75 juta. Pemerintah akan menanggung biaya bibit ini melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kementan memperkirakan kebutuhan anggaran untuk program pembibitan 5.000 hektare mencapai sekitar Rp375 miliar, mendekati Rp400 miliar yang telah disiapkan.
Target 5.000 hektare yang didukung APBN akan mulai dijalankan tahun ini. Selain itu, pemerintah juga berharap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta dapat berkontribusi dalam pengembangan pembibitan hingga 20 ribu hektare, sebagai upaya menuju target keseluruhan 100 ribu hektare. Pemerintah memproyeksikan program ini akan mulai menunjukkan hasil dalam tiga hingga empat tahun ke depan, dengan harapan impor bawang putih dapat berkurang secara bertahap seiring peningkatan produksi dalam negeri.