bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 04:37 WIB

Pemerintah China Tolak Seruan Perlambatan AI dari Raksasa Teknologi AS

Redaksi 15 September 2026 16 views
Pemerintah China Tolak Seruan Perlambatan AI dari Raksasa Teknologi AS
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pemerintah China menilai seruan para pemimpin perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai tindakan menakut-nakuti.

Miliarder teknologi seperti Dario Amodei, CEO Antrophic, Sam Altman selaku CEO OpenAI, dan Elon Musk, pemilik platform Grok, secara bersama‑sama menyerukan penundaan besar‑besaran dalam pengembangan AI.

Seruan tersebut dibahas dalam sebuah konferensi pers yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri China, dimana seorang jurnalis Reuters menanyakan pendirian pemerintah China terhadap panggilan pelambatan AI dari para pengembang di AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa AI merupakan teknologi penting bagi kesejahteraan manusia dan semua pihak harus berkolaborasi secara terbuka serta melibatkan semua kalangan dalam pengembangannya.

Guo menilai kekhawatiran yang diungkapkan oleh para pengembang AI AS sebagai omong kosong, menambahkan bahwa "tindakan menakut‑nakuti, konfrontasi, dan persaingan yang tidak sehat hanya akan menghambat upaya kami menciptakan regulasi AI global yang baik, dan tidak menguntungkan siapa pun."

Pernyataan tersebut disampaikan secara singkat dan padat, menunjukkan bahwa isu perlambatan AI yang ramai dibicarakan di Barat tidak menjadi prioritas utama bagi pemerintah Beijing.

Menurut pandangan para pembuat kebijakan China, perlombaan AI antara AS dan China tidak memaksa mereka untuk terburu‑buru; mereka yakin dapat mengejar ketertinggalan bila diperlukan, serupa dengan keberhasilan China dalam bidang mobil listrik, pengobatan kanker, dan smartphone. Profesor Yang Qiang dari Hong Kong University of Science and Technology mencontohkan sejarah internet, menyatakan bahwa meskipun internet awalnya berasal dari AS, China cepat menyusul dan memimpin dalam aplikasi konsumen seperti WeChat, dan AI akan mengikuti pola serupa.

Para pengamat terbagi dalam menilai langkah para pemimpin AI AS. Sebagian melihatnya sebagai indikasi ancaman AI yang berpotensi lepas kendali, sementara yang lain menganggapnya sebagai taktik atau kedok untuk memperoleh dukungan pemerintah guna menjaga arus investasi AI.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.