bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa kebutuhan pupuk bagi petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah, meskipun Indonesia telah mulai melakukan ekspor pupuk urea ke beberapa negara seperti Australia dan India. Keputusan untuk mengekspor ini diambil setelah pemerintah melakukan perhitungan dan menemukan adanya surplus produksi pupuk yang melebihi kebutuhan domestik.
Menurut Sudaryono, ekspor hanya akan dilakukan terhadap alokasi pupuk yang dinilai berlebih setelah seluruh kebutuhan petani dalam negeri terpenuhi. Ia menjelaskan bahwa pemerintah, melalui BUMN Pupuk Indonesia dan Kementerian Pertanian, memastikan bahwa pasokan untuk domestik adalah yang utama. Selisih antara produksi dan kebutuhan dalam negeri inilah yang kemudian dialokasikan untuk ekspor.
Pemerintah juga telah menjalin komunikasi dengan beberapa negara yang menunjukkan minat terhadap pasokan pupuk urea dari Indonesia. Selain Australia dan India, negara lain seperti Brasil dan Filipina juga telah menyampaikan ketertarikannya untuk membeli produk pupuk urea Indonesia. Kebijakan ini sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya memastikan ketersediaan pupuk dalam negeri terlebih dahulu sebelum membuka keran ekspor.
Sudaryono merinci bahwa Australia telah menerima pengiriman pupuk urea dari Indonesia, sementara pembahasan dengan India masih berlanjut untuk menyesuaikan dengan kebutuhan musim tanam di negara tersebut. Indonesia dinilai berada dalam posisi yang relatif aman di tengah gejolak pasar global karena kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pupuk utama secara mandiri, terutama pupuk urea yang merupakan komponen terbesar dalam kebutuhan pertanian nasional. Hal ini membuat Indonesia tidak perlu mengimpor pupuk jenis urea.
Meskipun demikian, Sudaryono mengakui bahwa Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku tertentu untuk produksi pupuk majemuk atau NPK, seperti potasium dan fosfat. Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia berencana mengekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai total sekitar Rp7 triliun melalui skema kerja sama antarpemerintah (G2G). Pengiriman perdana telah dilakukan pada Mei lalu sebanyak 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp600 miliar dari Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur. Target volume ekspor ke Australia diharapkan meningkat secara bertahap dari 250 ribu hingga 500 ribu ton. Selain Australia, potensi pasar ekspor juga sedang dijajaki ke India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh.