bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 09:54 WIB

PENAS Petani Nelayan 2026 Jadi Jembatan Teknologi, Investor, dan Pelaku Agribisnis

Redaksi 21 Juni 2026 16 views
PENAS Petani Nelayan 2026 Jadi Jembatan Teknologi, Investor, dan Pelaku Agribisnis
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 yang diselenggarakan di Gorontalo dipadati oleh ribuan pelaku agribisnis, petani, nelayan, koperasi, akademisi, penyedia teknologi, dan investor dari berbagai daerah.

Acara tiga tahunan yang diinisiasi oleh Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) bersama PT Fery Agung Corindotama (FERACO) ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga berkembang menjadi platform strategis. PENAS XVII 2026 menjadi titik temu bagi pelaku usaha, investor, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, dan para pemangku kepentingan di sektor pangan nasional.

Area pameran seluas 30.000 meter persegi diisi oleh lebih dari 300 perusahaan, BUMN, koperasi, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri pendukung. Mereka memamerkan berbagai inovasi, mulai dari alat dan mesin pertanian modern, teknologi irigasi dan budidaya presisi, bioenergi, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, hingga solusi digital untuk peningkatan produktivitas pangan.

Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pembukaan PENAS XVII 2026 menekankan pentingnya sektor pangan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional. Gibran menggarisbawahi peran vital petani dan nelayan sebagai garda terdepan dalam menjaga kemandirian pangan, serta mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian dalam menyederhanakan regulasi distribusi pupuk.

PENAS XVII 2026 diselenggarakan di tengah berbagai tantangan strategis sektor pangan, seperti dampak perubahan iklim, alih fungsi lahan produktif, ketergantungan impor komoditas pangan, serta kebutuhan percepatan adopsi teknologi di kalangan petani dan nelayan.

Tantangan lain yang dihadapi adalah tingkat susut hasil panen (post-harvest loss) yang masih mencapai 20 persen secara nasional, serta keterbatasan akses petani terhadap permodalan dan alat mesin pertanian modern.

Dalam konteks tersebut, PENAS XVII 2026 hadir sebagai solusi dengan menghubungkan inovasi teknologi, pembiayaan, dan kebijakan langsung dengan para pelaku utama di lapangan. Acara ini menciptakan ekosistem terpadu yang tidak hanya menampilkan solusi teknologi, tetapi juga memfasilitasi investasi, transfer pengetahuan, dan kemitraan bisnis berkelanjutan dari hulu ke hilir.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa teknologi merupakan kunci utama untuk mempercepat transformasi sektor pertanian nasional dan mendukung target swasembada pangan. Ia juga memperkenalkan konsep Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang mengintegrasikan inovasi dan praktik terbaik pertanian modern guna meningkatkan produktivitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Amran mengapresiasi PENAS XVII 2026 sebagai wadah pembelajaran, transfer teknologi, dan kolaborasi antara petani, nelayan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan penyedia teknologi dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.