bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan bahwa pendanaan untuk inovasi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah mengalami tren penurunan sejak tahun 2021.
Menurut Meutya, penurunan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan secara umum di seluruh Asia Tenggara. Ia menyatakan bahwa krisis kepercayaan perlu diatasi bersama untuk mengembalikan keyakinan investor agar lebih berani menanamkan modal di Tanah Air.
Berdasarkan data dari laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar US$99 miliar pada tahun 2025. Angka ini merepresentasikan sepertiga dari total nilai ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Namun, Meutya menekankan bahwa angka tersebut belum secara otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi digital Indonesia. Yang terpenting adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi digital dapat berdampak nyata pada peningkatan produktivitas ekonomi.
Ia menyoroti isu retensi nilai, di mana tingginya angka ekonomi digital Indonesia menjadi kurang bermakna jika nilai yang dihasilkan justru mengalir ke platform global yang beroperasi di luar negeri. Meutya menegaskan bahwa pemerintah berupaya mendorong pembagian yang lebih adil antara platform global dengan ekosistem digital nasional, sembari memastikan pertumbuhan tersebut dirasakan melalui peningkatan produktivitas di lapangan.
Dalam kesempatan yang sama, Meutya juga menyampaikan bahwa masih ada sekitar 19 persen penduduk Indonesia yang belum terhubung dengan internet, yang setara dengan 3.000 desa. Perluasan jaringan 5G disebut sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan digital tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Meutya dalam forum Digital Ecosystem Alignment (DEAL), sebuah acara kolaborasi lintas sektor yang menghasilkan delapan komitmen bersama. Agenda tersebut meliputi penguatan industri telekomunikasi, perlindungan konsumen, inovasi digital dan technopreneur, program sehat digital, ekosistem startup, ekosistem AI nasional, inklusivitas teknologi baru, dan efisiensi logistik nasional.
Forum DEAL menjadi platform gotong royong antara pemerintah, industri, akademisi, investor, startup, UMKM, komunitas, dan pemerintah daerah untuk menghasilkan aksi nyata. Beberapa inisiatif yang telah berjalan antara lain pemanfaatan IoT untuk kelompok tani dan pembudidaya ikan, pelatihan AI bagi pelaku UMKM, pengembangan fitur DARA untuk mitigasi risiko adiksi gim pada anak, serta pembangunan Dashboard Ecosystem sebagai sumber data nasional.
Lebih lanjut, Meutya mengungkapkan rencana intervensi digital berbasis AI dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) yang ditargetkan menjangkau 18 juta keluarga atau sekitar 50 juta warga Indonesia. Program ini, yang telah melalui uji coba di Banyuwangi, berpotensi menjadi program inklusi keuangan digital terbesar di dunia.