bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Penertiban Tambang Ilegal Dongkrak Produksi dan Kinerja PT Timah Tbk

Redaksi 11 Agustus 2026 8 views
Penertiban Tambang Ilegal Dongkrak Produksi dan Kinerja PT Timah Tbk
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, upaya penertiban tambang timah ilegal dinilai menjadi faktor pendorong utama bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk meningkatkan produksi serta memperkuat kinerja perusahaan. Langkah pemerintah dalam mengamankan cadangan strategis nasional berpotensi mengembalikan pasokan timah yang sebelumnya berada di luar rantai pasok resmi ke dalam sistem pertambangan yang legal.

Pemerintah menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung. Perkiraan sebelumnya menyebutkan bahwa aktivitas pertambangan timah di luar sistem resmi atau 'shadow mining' dapat mencapai sekitar 80 persen dari total produksi timah di Bangka Belitung. Besarnya aktivitas tambang ilegal ini sebelumnya menjadi tantangan bagi produsen resmi seperti TINS, bahkan menjadi salah satu faktor yang menekan produksi perseroan.

Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahunnya. Kondisi ini menunjukkan potensi pasokan yang signifikan berada di luar rantai pasok resmi. Penertiban aktivitas tersebut membuka peluang bagi TINS untuk memperoleh kembali pasokan bijih timah yang sebelumnya bergerak di jalur informal. Normalisasi pasokan melalui rantai resmi diharapkan dapat memberikan ruang bagi perseroan untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi, hingga volume penjualan.

Dampak positif dari pemulihan produksi TINS mulai terlihat pada semester I 2026. Produksi bijih timah perseroan mencapai 12.232 ton Sn, yang berarti meningkat sekitar 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 6.997 ton Sn. Produksi logam timah TINS juga mengalami peningkatan menjadi 10.865 metrik ton, dengan penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85 persen dibandingkan semester I 2025 yang berada di angka 5.933 metrik ton.

Peningkatan volume produksi dan penjualan ini turut berkontribusi pada penguatan kinerja keuangan perseroan. Pendapatan TINS pada semester I 2026 mencapai Rp10,42 triliun, naik 147 persen dibandingkan Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih TINS juga melonjak sekitar 805 persen menjadi Rp2,71 triliun dari Rp300 miliar pada semester I 2025. Realisasi ini bahkan telah mencapai sekitar 169 persen dari target laba bersih perseroan sepanjang 2026 sebesar Rp1,61 triliun.

Kinerja tersebut juga ditopang oleh harga timah global yang berada pada level tinggi. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I 2026 mencapai 50.319 dolar AS per metrik ton, meningkat 56,7 persen dari 32.116 dolar AS per metrik ton pada semester I 2025. Dengan kombinasi pemulihan produksi, normalisasi pasokan, dan harga timah yang tinggi, fundamental TINS mengalami perbaikan. Hal ini tercermin dari peningkatan kapitalisasi pasar perseroan yang naik dari sekitar Rp7,6 triliun pada Agustus 2025 menjadi sekitar Rp28,75 triliun pada Agustus 2026.

Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai prospek TINS masih positif dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, harga timah global, serta komitmen pemerintah dalam menertibkan tambang ilegal. Ia merekomendasikan saham TINS pada posisi 'buy' dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham, didukung oleh pemulihan produksi dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal. Hans Kwee juga menilai valuasi TINS masih menarik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.