bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:24 WIB

Pengamat Minta Kajian Komprehensif Sumber Polusi Udara Jakarta

Redaksi 22 Agustus 2026 3 views
Pengamat Minta Kajian Komprehensif Sumber Polusi Udara Jakarta
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menekankan pentingnya kajian yang komprehensif dalam mengidentifikasi sumber polusi udara di Jakarta. Hal ini diperlukan agar kebijakan pengendalian pencemaran yang diterapkan tepat sasaran dan tidak berdampak negatif pada kegiatan ekonomi.

Sofyano menyoroti perlunya bukti ilmiah yang kuat, berupa data emisi, analisis arah dan kecepatan angin, pemodelan dispersi, serta pengukuran konsentrasi polutan di Jakarta, jika PLTU Suralaya di Banten disebut sebagai penyebab utama polusi udara ibu kota. Ia berpendapat bahwa analisis dampak PLTU Suralaya juga harus mencakup wilayah yang lebih dekat dengan sumber emisi, seperti Banten, dan menjelaskan secara transparan jejak pergerakan polutan dari sumber hingga wilayah terdampak.

Lebih lanjut, Sofyano meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyajikan data pendukung yang valid apabila menyatakan PLTU Suralaya berkontribusi terhadap polusi udara di Jakarta. Menurutnya, publik berhak melihat bukti ilmiah, bukan sekadar pernyataan tanpa dasar data yang jelas.

Ia menambahkan bahwa polusi udara Jakarta merupakan isu yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, konstruksi, debu jalan, pembakaran terbuka, serta sumber emisi dari wilayah sekitarnya. Selain itu, faktor meteorologi juga berperan dalam konsentrasi polutan di udara. Oleh karena itu, penentuan sumber dominan polusi memerlukan analisis yang mempertimbangkan seluruh sumber emisi dan kondisi atmosfer secara bersamaan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.