bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa fenomena El Nino Godzilla dapat memperparah risiko kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
El Nino merupakan pola pemanasan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik yang secara umum memperpanjang musim kemarau di tanah air. Istilah "Godzilla" ditambahkan untuk menandai varian El Nino yang sangat kuat, di mana suhu laut di bagian timur Pasifik naik lebih dari 2°C di atas rata‑rata normal.
Penamaan tersebut pertama kali dipopulerkan oleh ahli klimatologi NASA, Bill Patzert, pada tahun 2015 karena diperkirakan akan menjadi El Nino terkuat sejak era 1950-an. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa istilah "El Nino Godzilla" tidak termasuk dalam terminologi klimatologi internasional yang resmi dan lebih bersifat hiperbola.
Menurut proyeksi BMKG, El Nino dengan intensitas sangat kuat ini berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Sejarah mencatat dua episode paling parah, yaitu pada periode 1997‑1998 dan 2015‑2016, yang masing‑masing menghasilkan kemarau terpanjang dalam catatan Indonesia serta memicu kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap meluas ke seluruh Asia Tenggara.
Dampak utama bagi Indonesia meliputi perpanjangan musim kemarau, peningkatan kekeringan, dan percepatan penyebaran kebakaran hutan serta lahan yang sudah terjadi. Kondisi ini menambah beban pada upaya mitigasi kebakaran dan menuntut kesiapsiagaan lebih tinggi dari pihak berwenang.