bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 18:21 WIB

Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Butuh Waktu Meski Minyak Dunia Turun

Redaksi 18 Juni 2026 10 views
Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Butuh Waktu Meski Minyak Dunia Turun
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, para ekonom menyatakan bahwa penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi tidak dapat dilakukan secara instan meskipun harga minyak dunia sedang mengalami tren penurunan menyusul meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, harga BBM di Indonesia tidak secara otomatis mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Hal ini dikarenakan harga yang dibayarkan konsumen di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) merupakan hasil kalkulasi yang kompleks. Komponen harga tersebut meliputi harga produk BBM jadi di pasar regional, nilai tukar rupiah, biaya operasional seperti pengadaan, penyimpanan, dan distribusi, margin badan usaha, serta pajak.

Josua menambahkan bahwa perhitungan harga BBM didasarkan pada rata-rata periode tertentu, bukan harga harian. Khusus untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, penentuan harganya merupakan kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika harga minyak dunia turun, potensi ruang fiskal yang terbuka kemungkinan akan diprioritaskan untuk mengurangi beban subsidi dan kompensasi yang sebelumnya membengkak, bukan langsung diturunkan ke harga jual di SPBU.

Sementara itu, untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian harga lebih mengikuti mekanisme pasar. Namun, proses penyesuaian ini tidak terjadi setiap hari karena mengacu pada formula resmi yang diawasi oleh pemerintah. Josua menekankan pentingnya transparansi pemerintah dalam mengkomunikasikan komponen-komponen yang membentuk harga BBM kepada publik agar isu ini tidak mudah dipolitisasi.

Josua memperkirakan harga keekonomian ideal Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter, yang berarti masih lebih tinggi sekitar Rp250 per liter dibandingkan harga jual yang berlaku saat itu, yaitu Rp16.250 per liter. Tingginya harga keekonomian Pertamax ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi APBN sebesar US$70 per barel, ditambah dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor energi.

Ia menilai bahwa kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah koreksi yang perlu dilakukan untuk meringankan tekanan keuangan yang ditanggung oleh Pertamina akibat penahanan harga sebelumnya. Josua mengingatkan bahwa jika harga Pertamax terus ditahan di angka Rp12.300 terlalu lama, beban tersebut akan semakin berat bagi Pertamina.

Senada dengan pandangan tersebut, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, menyatakan bahwa perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat akan memberikan sentimen positif bagi pasar energi global dan berpotensi menekan harga minyak mentah dunia. Tren penurunan harga minyak ini pada akhirnya dapat memengaruhi harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, termasuk Pertamax. Namun, Yayan memperkirakan bahwa penurunan harga Pertamax hingga kembali ke level sekitar Rp12.300 per liter tidak akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat penurunan harga minyak dunia diperkirakan akan berlangsung secara bertahap.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.