bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, sektor transportasi dilaporkan sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ke lingkungan dibandingkan sumber lainnya. Mengingat karbon dioksida (CO2) merupakan gas rumah kaca yang paling umum, upaya pengurangan emisi CO2 dari kendaraan menjadi fokus dalam memperlambat pemanasan global. Namun, sebagian ilmuwan mulai menyadari bahwa metana, yang dihasilkan dari tempat pembuangan akhir (TPA), berpotensi lebih merusak bagi pemanasan global.
Tujuan utama dalam krisis iklim saat ini adalah membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius dalam jangka panjang dan mengurangi gas rumah kaca sebesar 43% pada tahun 2030. Mengingat tenggat waktu yang relatif singkat ini, metana menjadi kontributor jangka pendek yang jauh lebih signifikan dibandingkan CO2.
Meskipun TPA, khususnya yang berlokasi di dekat Santiago, Chili, menjadi penyumbang emisi metana terbesar dengan produksi sekitar 100.000 metrik ton per tahun, industri lain juga merupakan penghasil metana utama. Gas ini merupakan produk sampingan dari industri batu bara, gas alam, minyak bumi, dan pertanian. Seekor sapi saja dapat menghasilkan metana hingga 264 pon per tahun.
Permasalahan mendasar terletak pada kemampuan metana yang jauh lebih unggul dalam menjebak panas dibandingkan CO2, meskipun masa tinggalnya di atmosfer lebih singkat. Sebagai ilustrasi, jika jumlah metana dan CO2 yang sama dilepaskan ke lingkungan secara bersamaan, metana awalnya dapat menjebak panas sekitar 100 kali lebih banyak daripada CO2. Namun, metana juga lebih cepat terurai di atmosfer. Dalam dua dekade setelah pelepasan, metana akan menjebak 80 kali lebih banyak panas dibandingkan CO2. Bahkan setelah 100 tahun, metana tetap akan bertanggung jawab menjebak 28 kali lebih banyak panas daripada CO2.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa peningkatan hidrogen di atmosfer memperburuk dampak metana. Hidrogen sendiri tidak secara langsung menjadi masalah, tetapi ia menghancurkan zat pembersih metana di atmosfer, sehingga metana bertahan lebih lama. Dalam perkembangan yang memprihatinkan, salah satu sumber utama peningkatan hidrogen di atmosfer adalah peningkatan kadar metana itu sendiri, karena metana terurai menjadi hidrogen. Hal ini menciptakan siklus yang merusak, di mana pelepasan metana lebih lanjut menyebabkan lebih banyak kerusakan.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.