bytedaily - Melansir laporan dari insidehighered.com, perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan signifikan terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam proses pembelajaran. Para pengajar di berbagai disiplin ilmu melaporkan peningkatan drastis dalam penyalahgunaan AI oleh mahasiswa, yang berdampak pada efektivitas tugas-tugas akademik tradisional. Sejak awal tahun 2026, banyak dosen merasa tugas tertulis yang sebelumnya menjadi alat utama untuk mengukur pemahaman bacaan dan mengembangkan keterampilan analisis mahasiswa, tidak lagi relevan karena mahasiswa mulai menyerahkan karya yang dihasilkan oleh AI.
Fenomena ini juga melanda mata pelajaran eksakta. Dosen matematika menemukan bahwa memberikan nilai untuk pekerjaan rumah yang jelas-jelas dikerjakan oleh chatbot menjadi tidak lagi memadai. Sebagai respons, beberapa institusi pendidikan mulai mengadopsi kembali metode ujian tradisional, seperti ujian tertulis tangan di kelas, yang sempat ditinggalkan. Namun, solusi ini justru menimbulkan masalah baru terkait keterbatasan waktu dalam pelaksanaan ujian.
Seorang profesor bahasa Spanyol, misalnya, mengalami kesulitan ketika mahasiswa tingkat lanjutnya semakin kesulitan memahami cerita pendek berbahasa Spanyol. Mahasiswa tersebut, yang diduga sangat bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas di rumah, tidak mampu menunjukkan keterampilan yang sama saat di kelas. Kekhawatiran muncul bahwa kemampuan membaca mahasiswa dalam bahasa Spanyol semakin menurun. Untuk mengatasi hal ini, disarankan agar waktu kelas dimanfaatkan untuk mengadakan lokakarya membaca guna membimbing mahasiswa dalam proses pengembangan pemahaman bacaan.