bytedaily
Jumat, 10 Juli 2026 - 04:06 WIB

Perkembangan AI Berpotensi Mengurangi Ketersediaan Ponsel Murah di Pasar Global

Redaksi 09 Juli 2026 2 views
Perkembangan AI Berpotensi Mengurangi Ketersediaan Ponsel Murah di Pasar Global
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, perkembangan pesat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara global diprediksi akan berdampak pada ketersediaan ponsel dengan harga terjangkau di pasar. Pembangunan besar-besaran yang membutuhkan banyak modul RAM untuk menopang sistem AI ini memicu kelangkaan dan lonjakan biaya memori.

Lembaga riset Omdia memproyeksikan bahwa jumlah ponsel dengan harga di bawah US$400 (sekitar Rp7,24 juta) dapat berkurang hingga 22 persen di pasar global, mulai dari sisa tahun ini hingga 2027. Analis Omdia, Zaker Li, menjelaskan bahwa biaya produksi memori untuk ponsel dalam rentang harga tersebut diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat antara kuartal ketiga 2025 dan kuartal pertama 2026. Peningkatan biaya memori untuk ponsel di atas US$400 bahkan diprediksi lebih dari 100 persen.

Meskipun beberapa produsen berupaya menekan biaya komponen lain seperti layar dan sensor yang belum mengalami kelangkaan pasokan, Li menegaskan bahwa ruang gerak produsen untuk mempertahankan harga ponsel murah semakin terbatas akibat lonjakan biaya memori yang cepat. Akibatnya, produsen ponsel asal China seperti Oppo, Vivo, Honor, Xiaomi, dan Transsion kemungkinan besar akan terpaksa menaikkan harga jual produk mereka.

Kenaikan harga ini berpotensi membuat konsumen yang sensitif terhadap harga enggan membeli, yang pada gilirannya dapat mendorong produsen untuk menghentikan produksi ponsel kelas bawah sepenuhnya jika permintaan terus menurun. Wakil Presiden Worldwide Client Devices di IDC, Francisco Jeronimo, menyebutkan bahwa beberapa vendor bahkan sedang mempertimbangkan untuk keluar dari segmen ponsel murah karena margin keuntungan yang tipis atau bahkan tidak ada.

Dalam jangka pendek, Omdia memperkirakan pasar ponsel global akan menyusut 12 persen tahun ini dibandingkan 2025, seiring dengan penurunan angka pengapalan ponsel di bawah US$400 sebesar 22 persen. Krisis pasokan RAM diperkirakan akan mereda pada akhir 2027 atau awal 2028, seiring melambatnya pembangunan infrastruktur AI dan meningkatnya produksi RAM.

Menyikapi kondisi ini, Wakil Presiden sekaligus analis utama Forrester, Dipanjan Chatterjee, menyarankan produsen untuk mencari cara lain menarik minat konsumen, seperti menawarkan produk non-ponsel atau menambahkan fitur baru pada ponsel untuk mendorong konsumen melakukan upgrade perangkat, mengingat banyak konsumen kemungkinan akan memilih untuk bertahan dengan ponsel yang sudah dimiliki.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.