bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 04:45 WIB

PMI Manufaktur Indonesia Anjlok, Ekonom Waspadai Melemahnya Daya Beli dan Potensi PHK

Redaksi 06 Juli 2026 1 views
PMI Manufaktur Indonesia Anjlok, Ekonom Waspadai Melemahnya Daya Beli dan Potensi PHK
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia mengalami penurunan signifikan menjadi 46,9 pada Juli 2026, merosot dari angka 50,0 pada bulan sebelumnya. Angka ini menandai pelemahan terdalam sektor manufaktur Indonesia dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Penurunan indeks tersebut disebabkan oleh melemahnya permintaan baru, yang berimbas pada lesunya volume produksi, aktivitas pembelian bahan baku, hingga penyerapan tenaga kerja. S&P Global mencatat pesanan baru mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, dengan laju penurunan terdalam dalam setahun. Pelaku usaha mengaitkan kondisi ini dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan kenaikan harga.

Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa penurunan PMI manufaktur merupakan sinyal hilangnya momentum aktivitas industri. Ia menyoroti kekhawatiran karena angka PMI yang turun ke zona kontraksi pada Juli 2026 merupakan level terendah sejak Juni 2025, serta menjadi kontraksi kedua dalam tiga bulan terakhir. "Artinya, pelemahan ini mulai membentuk pola, bukan lagi sekadar fluktuasi bulanan," ujar Yusuf.

Yusuf menjelaskan bahwa industri menghadapi tekanan dari dua sisi. Dari sisi permintaan, pesanan baru menurun dengan laju tercepat dalam setahun, sementara pesanan ekspor mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021. Di sisi lain, perusahaan dihadapkan pada kenaikan harga bahan baku yang diperparah oleh pelemahan nilai tukar, menyebabkan inflasi harga input mencapai level tertinggi sejak survei PMI dimulai pada 2011. Kombinasi ini menciptakan situasi yang tidak menguntungkan bagi industri.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, turut menekankan bahwa penurunan PMI manufaktur bukan sekadar fluktuasi. Ia mengingatkan bahwa jika PMI bertahan di bawah 50 selama beberapa bulan, ini menunjukkan sektor manufaktur kehilangan momentum. "Ini cukup krusial, karena manufaktur adalah salah satu motor utama penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah. Jadi, ini adalah early warning bahwa mesin pertumbuhan berbasis industri sedang melemah," ungkap Ronny.

Meskipun demikian, Ronny menilai penurunan PMI manufaktur belum tentu langsung berdampak pada peningkatan jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Biasanya, penurunan PMI diikuti oleh penyesuaian pasar tenaga kerja dengan jeda waktu. Perusahaan cenderung menahan rekrutmen, mengurangi jam kerja, sebelum akhirnya melakukan PHK jika tekanan berlanjut. Namun, Ronny memperingatkan bahwa jika tren PMI yang kontraktif ini berlanjut dan meluas ke sektor lain, risiko PHK bisa menjadi lebih sistemik, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.