bytedaily
Sabtu, 04 Juli 2026 - 13:54 WIB

Perkembangan AI Terancam Krisis Air Bersih Akibat Kebutuhan Data Center

Redaksi 06 Juni 2026 15 views
Perkembangan AI Terancam Krisis Air Bersih Akibat Kebutuhan Data Center
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) ternyata menimbulkan konsekuensi yang signifikan terhadap ketersediaan air bersih. Pembangunan pusat data (data center) yang menjadi tulang punggung operasional AI secara global dilaporkan mulai menggerus pasokan air yang esensial bagi kebutuhan sehari-hari manusia.

Sebuah studi dari United Nations University Institute for Water, Environment, and Health (UNU-INWEH) yang dipublikasikan pada 3 Juni 2026, memprediksi bahwa luas lahan yang dibutuhkan oleh seluruh data center AI di dunia akan melampaui 14.500 kilometer persegi pada tahun 2030. Angka ini setara dengan dua kali lipat luas wilayah metropolitan Jakarta yang dihuni oleh lebih dari 32 juta jiwa.

Lebih lanjut, laporan PBB tersebut juga memperkirakan bahwa kebutuhan air untuk mendinginkan data center akan setara dengan kebutuhan air domestik tahunan seluruh 1,3 miliar penduduk di kawasan Sub-Sahara Afrika. Fenomena ini merupakan dampak lingkungan dari pembangunan data center yang selama ini kurang mendapat perhatian dan, menurut para ilmuwan PBB, seringkali diukur secara keliru.

Menurut publikasi International Energy Agency (IEA) berjudul Energy and AI, konsumsi listrik oleh data center pada tahun 2024 mencapai sekitar 415 terawatt-hour (TWh), yang berarti sekitar 1,5 persen dari total konsumsi listrik dunia. Angka ini menunjukkan pertumbuhan pesat, yaitu 12 persen per tahun sejak 2017, jauh melampaui laju pertumbuhan konsumsi listrik secara keseluruhan.

Proyeksi IEA menunjukkan bahwa konsumsi listrik oleh data center akan berlipat ganda pada tahun 2030, mendekati 945 TWh, atau setara dengan total konsumsi listrik tahunan Jepang saat ini. Kebutuhan energi yang besar ini disebabkan oleh mesin-mesin yang memerlukan pendinginan konstan, di mana data center mengonsumsi energi per meter persegi antara 10 hingga 50 kali lebih banyak dibandingkan gedung perkantoran komersial pada umumnya.

Sistem pendinginan menjadi salah satu faktor utama yang menyumbang kebutuhan energi dan air dalam jumlah besar. IEA memperkirakan bahwa sebuah data center hyperscale dengan kapasitas 100 megawatt di Amerika Serikat dapat mengonsumsi sekitar dua juta liter air setiap harinya, setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga. Lebih dari 60 persen konsumsi air ini bersifat tidak langsung, terkait dengan proses pembangkitan listrik.

Secara global, total konsumsi air oleh data center diperkirakan mencapai 560 miliar liter per tahun saat ini, dan diproyeksikan akan meningkat menjadi sekitar 1.200 miliar liter pada tahun 2030. Di Australia, permintaan air yang masif ini telah menimbulkan kekhawatiran, di mana salah satu otoritas air menerima permohonan dari satu data center yang membutuhkan hingga 40 juta liter air per hari.

Situasi serupa juga telah berdampak di Asia Tenggara, dengan Johor Bahru, Malaysia, menjadi salah satu contohnya. Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan sementara terhadap pembangunan data center AI karena harus bersaing dalam pemenuhan pasokan air dengan kebutuhan domestik dan industri kelapa sawit setempat. Hendra Suryakusuma, Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), mengonfirmasi hal ini pada Rabu (20/5) di Jakarta, menyatakan bahwa moratorium di Johor Bahru terjadi karena data center AI harus berbagi pasokan air untuk kebutuhan domestik dan industri kelapa sawit.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.