bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:28 WIB

Permintaan Homestay di Lombok Naik Menjelang MotoGP Mandalika 2026

Redaksi 09 Oktober 2026 13 views
Permintaan Homestay di Lombok Naik Menjelang MotoGP Mandalika 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sejumlah homestay di Desa Kuta, Lombok Tengah, mengalami peningkatan permintaan kamar menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Balapan di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026.

PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan Universitas Mataram memberikan pelatihan hospitality, pengelolaan homestay, dan bahasa Inggris kepada pengelola serta pekerja penginapan di sekitar Mandalika. Program ini ditujukan agar pelaku usaha setempat dapat meningkatkan mutu layanan dan tata kelola, selain memperoleh manfaat ekonomi dari ajang tersebut.

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan Desa Kuta menjadi salah satu wilayah yang diperhatikan karena berdekatan dengan sirkuit. Ia menyebut program perusahaan juga mencakup pemberdayaan warga dalam pengelolaan sampah dan pelayanan bagi wisatawan.

Bani, pemilik Mong Bungalows, mengatakan tingkat hunian penginapannya meningkat dalam sepekan terakhir. Ia menyebut kenaikan itu terasa karena Oktober biasanya menjadi masa ketika tren pariwisata mulai melemah. Tarif kamar di Mong Bungalows pada kondisi normal berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per malam, bergantung pada musim, dan disesuaikan saat permintaan meningkat selama periode MotoGP.

Bani mengapresiasi pelatihan Pertamina dan Unram. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu pemilik penginapan meningkatkan kompetensi, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata, serta memperbaiki pelayanan dan pengelolaan usaha.

Perwakilan Mango Room Mandalika, Reddy Mardani atau Dani, mengatakan tarif kamar yang biasanya sekitar Rp600 ribu per malam naik menjadi Rp2 juta selama MotoGP. Seluruh kamar yang ditawarkan dengan tarif tersebut terjual habis.

Dani menyebut manfaat ekonomi ajang itu juga dirasakan pekerja lokal, pelaku kuliner, UMKM, dan warga yang menawarkan beragam jasa.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.